Jumat, 20 Agustus 2010

DIABETES MELLITUS


DIABETES MELLITUS
Penyakit diabetes mellitus yang diderita banyak orang tidak hanya satu macam. Penyakit ini diklasifikasikan menjadi beberapa macam. Pengklasifikasian tersebut berdasarkan metode presentasi klinis, umur penderita, dan riwayat penyakit.. Dari pengklasifikasian tersebut, kita dapat mengetahui faktor penyebabnya beserta cara mencegahnya agar penyakit mematikan ini dapat ditanggulangi.
Menurut David E. Schteingart dalam Patofisiologi Price & Wilson (2005, hal 1271), diabetes mellitus merupakan serangkaian gangguan yang ditandai dengan defisiensi insulin absolut maupun relatif atau resistensi insulin (atau keduanya). Pada kondisi normal, kadar gula tubuh akan selalu terkendali, berkisar 70-110 mg/dL, oleh pengaruh kerja hormon insulin yang diproduksi kalenjar pankreas. Hormon insulin menurunkan kadar gula darah secara alami yaitu dengan cara meningkatkan jumlah gula yang disimpan di dalam hati, merangsang sel-sel tubuh agar menyerap gula, dan mencegah hati mengeluarkan terlalu banyak gula.
Beberapa klasifikasi diabetes mellitus telah diperkenalkan berdasarkan metode presentasi klinis, umur penderita, dan riwayat penyakit. Klasifikasi tersebut diperkenalkan oleh American Diabetes Association (ADA) berdasarkan pengetahuan mutakhir mengenai patogenesis sindrom diabetes dan gangguan toleransi glukosa. Klasifikasi ini telah disahkan oleh World Health Organization (WHO) dan telah dipakai di seluruh dunia. Klasifikasi klinis diabetes melitus menurut ADA dan Intoleransi Glukosa Abnormal adalah sebagai berikut:
1. Diabetes Melitus
a. Tipe 1
b. Tipe 2
2. Diabetes Melitus Kehamilan (GDM)
3. Tipe Spesifik Lain
4. Gangguan Toleransi Glukosa (IGT)
5. Gangguan Glukosa Puasa (IFG)
Dua tipe utama diabetes melitus primer yamg dikenal adalah diabetes tipe 1 disebut diabetes melitus bergantung insulin atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) dan diabetes tipe 2 yang disebut diabetes melitus tidak bergantung insulin atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM).
Diabetes tipe 1 ditandai dengan kekurangan absolut insulin endogen akibat destruksi autoimun pada sel β pankreas dalam pulau Langerhans yang secara normal menghasilkan hormon insulin, atau mungkin bersifat idiopatik Diabetes tipe 1 disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor genetik, faktor imunologi, dan faktor lingkungan. Kecenderungan genetik ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. Faktor imunologi merupakan respon abnormal autoimun yang mengarahkan antibodi pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah jaringan asing. Sedangkan faktor dari lingkungan eksternal adalah virus dan toksin tertentu yang dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan destuksi sel β pankreas. Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.
Gejala diabetes tipe I muncul secara tiba-tiba pada saat usia anak-anak (di bawah 20 tahun), sebagai akibat dari adanya kelainan genetika, sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin dengan baik. Diabetes tipe ini juga diderita oleh orang dewasa.
Gejala-gejala diabetes tipe I, antara lain :
1. Berat badan menurun
2. Kelelahan
3. Penglihatan kabur
4. Sering buang air kecil
5. Terus menerus lapar dan haus
6. Meningkatnya kadar gula dalam darah dan air seni
Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal, terutama pada tahap awal. Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetik ketoasidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui “inhaled powder”.
Diabetes tipe 2 ditandai dengan resistensi insulin perifer, gangguan sekresi insulin, dan produksi glukosa hati yang berlebihan. Tidak terdapat bukti adanya destruksi sel β pankreas yang diperantarai oleh autoimun, namun obesitas seringkali berkaitan dengan tipe ini. Faktor predisposisi genetik berperan penting dalam kerentanan terhadap diabetes. Sebagian besar orang yang menderita diabetes tipe 2 memiliki riwayat keluarga dengan diabetes meskipun tidak ditemukan penanda genetik terpercaya yang telah diidentifikasi.
Dari kedua tipe utama diabetes melitus primer tersebut, dapat disimpulkan perbedaan dari keduanya. Perbedaan antara diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Diabetes Mellitus tipe 1
Diabetes Mellitus tipe 2
Penderita menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin.
Pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif.
Umumnya terjadi sebelum usia 30 tahun, yaitu anak-anak dan remaja.
Bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya terjadi setelah usia 30 tahun
Para ilmuwan percaya bahwa faktor lingkungan (berupa infeksi virus atau faktor gizi pada masa kanak-kanak atau dewasa awal) menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas. Untuk terjadinya hal ini diperlukan kecenderungan genetik.
Faktor resiko untuk diabetes tipe 2 adalah obesitas dimana sekitar 80-90% penderita mengalami obesitas.
90% sel penghasil insulin (sel beta) mengalami kerusakan permanen. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan penderita harus mendapatkan suntikan insulin secara teratur.
Diabetes Mellitus tipe 2 juga cenderung diturunkan secara genetik dalam keluarga.
Kedua tipe diabetes ini dapat mengakibatkan komplikasi jangka panjang yang mempengaruhi pembuluh-pembuluh kecil mata, ginjal dan sistem saraf. Komplikasi ini berhubungan dengan tingkat gula darah yang tinggi yang terus ada dari waktu ke waktu dan dapat berakibat kerusakan serius seperti kebutaan, gagal ginjal, luka di kaki yang tidak sembuh-sembuh, amputasi, serta disfungsi organ-organ yang lain. Kedua tipe diabetes meningkatkan risiko berkembangnya penyakit jantung dan stroke. Dalam jangka pendek, gula darah yang sangat tinggi, jika tidak dirawat, dapat berakibat dehidrasi yang perah dan dapat menyebabkan pusing-pusing, koma, dan bahkan kematian.
Diabetes gestasional (GDM) adalah suatu dengan gangguan toleransi glukosa yang memiliki derajat keparahan bervariasi. GDM dikenali pertama kali pada saat kehamilan dan memengaruhi 4% dari semua kehamilan. Faktor resiko terjadinya GDM adalah usia tua, etnik, obesitas, multiparitas, riwayat keluarga, dan riwayat diabetes gestasional terdahulu. Perempuan yang menderita diabetes gestasional (GDM) sangat beresiko mengalami diabetes tipe 2.
Diabetes tipe spesifik lain terdiri dari beberapa jenis, sebagai berikut:
a. Kelainan genetik pada sel beta.
b. Kelainan genetik pada kerja insulin menyebabkan sindrom resistensi insulin berat dan akantosis negrikans.
c. Endokrinopati, penyakit endokrin pankreas menyebabkan sindrom Cushing dan akromegali
d. Penyakit eksokrin pancreas menyebabkan pankreastitis kronik.
e. Obat-obat yang bersifat toksik pada sel beta.
f. Infeksi
Pasien dengan gangguan toleransi glukosa (IGT) dipandang dari sudut biokimia menunjukkan kadar glukosa plasma puasa ≥140 dan <200 mg/dl setelah 2 jam. Beberapa pasien dengan IGT mungkin menderita keadaan lain yang mungkin bertanggung jawab atas diabetes tipe 2. pada individu lain, IGT mungkin menunjukkan adanya diabetes dalam stadium dini. Diabetes dengan gangguan glukosa puasa (IFG) terjadi jika kadar klukosa plasma puasa ≥110 dan <126 mg/100ml. Individu dengan IFG atau IGT tidak digolongkan ke dalam penderita diabetes, tetapi dianggap beresiko lebih tinggi terhadap diabetes dibandingkan masyarakat umum. Banyak yang akan kembali spontan pada toleransi glukosa normal, namun setiap tahunnya 1% hingga 5% dari mereka dapat lanjut menjadi diabetes.
Penyakit diabetes sebenarnya bisa dicegah sedini mungkin. Caranya dengan melakukan pola makan yang benar dan gaya hidup yang sehat. Menurut Ketua Sentra Informasi Diabetes dan Lipid Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, dr Asep Saepul Rohmat Sp.PD, beberapa upaya pencegahan diabetes mellitus yang bisa dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Atur pola makan yang baik. Khususnya untuk yang berusia 35-40 tahun. Sebab pada usia ini biasanya seseorang akan mengalami kesuksesan secara duniawi. Akibatnya, mereka dapat membeli makanan apa saja karena kecukupan materi. Pada saat seperti ini perlu pengendalian pola makan, juga jadwal dan komposisi yang benar. Ini penting dilakukan, baik bagi orang yang memiliki faktor keturunan diabetes maupun tidak.
2. Jika berat badan sudah melebihi normal (obesitas), maka perlu dilakukan program untuk menurunkannya. Hal ini juga terkait dengan pola makan. Hindari makanan yang mengandung lemak dan kolesterol tinggi.
3. Olahraga atau aktivitas fisik juga penting dilakukan untuk pencegahan diabetes mellitus. Lakukan hal ini secara teratur.
Nutrisi merupakan faktor yang penting untuk timbulnya diabetes tipe 2. Gaya
Berikut ini adalah beberapa anjuran gizi seimbang yang ada kaitannya dengan pencegahan diabetes.
hidup yang kebarat-baratan dan hidup santai serta panjangnya angka harapan hidup merupakan faktor yang meningkatkan prevalensi diabetes mellitus
1. Makanlah aneka macam makanan
Tidak
ada satupun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi yang mampu membuat seseorang hidup sehat dan produktif. Oleh karena itu setiap orang termasuk penderita diabetes mellitus perlu mengonsumsi aneka ragam makanan. Makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, pembangun dan pengatur.
a. Sumber zat tenaga antara lain beras, jagung,gandum, ubi kayu,ubi jalar, kentang, sagu dan mie. Minyak, margain dan santan yang mengandung lemak juga menghasilkan tenaga.
b. Sumber zat pembangun, antara lain yang berasal dari bahan makanan nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sumber yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu, serta hasil olahannya seperti keju.Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.
c. Sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.
2. Makanlah untuk memenuhi kecukupan energi (capai dan pertahankan berat badan normal).
Agar dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari, setiap orang perlu memakan makanan yang cukup enegi. Kecukupan energi ditandai dengan berat badan yang normal.Oleh karena itu, capai dan pertahankan berat badan yang normal.
Mempertahankan berat badan normal/ideal sesuai dengan umur dan tinggi badan diperlukan untuk pencegahan diabetes mellitus. Peningkatan aktivitas fisik dan mengurangi makan merupakancara yang baik untuk penurunan berat badan.Kebutuhan energi seseorang bergantung pada usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan dan kegiatan fisik, keadaan penyakit dan pengobatannya.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, pilihlah karbohidrat kompleks dan serat, batasi karbohidrat sederhana yang (refined)
Terdapat 3 kelompok karbohidrat yaitu kompleks, sederhana dan serat.
a. Karbohidrat Kompleks (tepung-tepungan)
makanan sumber
karbohidrat kompleks adalah padi-padian (beras, jagung, gandum), umbi-umbian (singkong, ubi jalar, kentang), sagu dan lain-lain. Makanan tersebut mengandung zat gizi lain selain karbohidrat.
Proses pencernaan
dan penyerapan karbohidrat kompleks di dalam tubuh berlangsung lebih lama dari karbohidrat sederhana, sehingga dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks, orang tidak segera lapar.
b. Karbohidrat Sederhana
Karbohidrat sederhana alamiah tedapat pada buah, sayuran dan susu.
Bahan makanan tesebut selain mengandung karbohidrat, mengandung zat gizi lain yang sangat bemanfaat. Karbohidrat sederhana yang diproses seperti gula, madu, sirup, bolu, selai, dan lain-lain langsung diserap dan digunakan tubuh sebagai energi, sehingga cepat menimbulkan lapar. Gula tidak mengandung zat gizi lain, tetapi hanya karbohidrat. Konsumsi gula yang berlebih dapat mengurangi peluang terpenuhinya zat gizi lain.
c. Serat
Serat merupakan bagian karbohidrat yang tidak dapat dicerna. Kelompok ini banyak terdapat pada buah, sayuran, padi-padian dan produk sereal. Susu, daging dan lemak tidak mengandung serat.
Serat terdiri dari 2 jenis yaitu serat larut
(pembentuk gel) seperti pektin dan guargum serta serat tidak larut seperti selulose dan bran. Kedua jenis serat ini terdapat pada padi-padian, kacang-kacangan, tempe, sayuran, dan buah. Memakan makanan cukup serat memberikan keuntungan sebagai berikut:
1) perasaan kenyang dan puas yang membantu mengendalikan nafsu makan dan penurunan berat.
2) Makanan tinggi serat biasanya rendah kalori
3) Membantu buang air besar secara teratur
4) Menurunkan kadar lemak darah yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung yaitu kolesterol dan trigliserida darah.
4. Batasi konsumsi lemak, minyak dan santan sampai seperempat kecukupan energi
Mengurangi asupan lemak, terutama lemak jenuh dapat menurunkan risiko diabetes mellitus. Beberapa contoh sumber asupan lemak jenuh adalah makanan yang dimasak dengan banyak minyak, mentega ataupun santan, lemak hewan, susu penuh (whole milk) dan cream.
5. Gunakan garam beryodium
Konsumsi natrium dalam garam dapur (natrium klorida) yang belebihan dapat memicu terjadinya penyakit darah tinggi. Anjuran asupan natrium untuk penduduk biasanya tidak lebih dari 3000 mg per hari yaitu kira-kira 1 sendok teh yang digunakan dalam memasa
6. Berikan ASI saja pada bayi minimal sampai umur 6 bulan.
ASI adalah makan terbaik untuk bayi. Pada usia 0-6 bulan, bayi cukup diberi ASI (ASI eksklusif) karena ASI pada periode tersebut sudah mencukupi kebutuhan bayi untuk tumbuh kembang yang sehat.
Kurang gizi selama awal kehidupan atau bahkan saat di dalam kandungan juga memainkan peranan penting pada timbulnya DM tipe 2 di kemudian hari setelah dewasa, melalui mekanisme resistensi insulin.
7. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur
Kegiatan fisik dan olahraga bemanfaat bagi setiap orang karena dapat meningkatkan kebugaran, mencegah kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot serta memperlambat proses penuaan.
Olahraga harus dilakukan secara teratur. Macam dan takaran olahraga berbeda menurut usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan dan kondisi kesehatan. Apabila pekerjaan sehari-hari seseorang kurang memungkinkan gerak fisik, upayakan berolahraga secara teratur atau melakukan kegiatan lain yang setara.
Kegiatan lain yang bisa dilakukan seperti membiasakan diri naik tangga 2-6 lantai yang secara bertahap dan teratur, walaupun di tempat itu tersedia lift. Kurang gerak atau hidup santai merupakan faktor pencetus diabetes.
DAFTAR PUSTAKA
Price, Sylvia A., Lorraine M. Wilson. 2005. Patofifisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
Tjokroprawiro, Askandar.1999. Diabetes Mellitus Klasifikasi, Diagnosis, dan Terapi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar