imajinasiku


Bagian 1
Kisah Pasutri Yang Saling Setia
“Aduuuuh….hiks…hiks…hiks….” Terdengar tangis Bu Ren meratapi penderitaannya yang telah lama mengalami gagal ginjal kronik akibat penyakit batu ginjal yang dideritanya.
“Aku sudah tidak tahan lagi. Aku mau mati saja. Batu ini makin membesar, ia menusuk-nusuk tubuhku, Pak,” Keluh Bu Ren pada suaminya.
“Sabar Bu,,, Bapak akan selalu menemanimu, walau sudah lama kau menderita penyakit itu, tapi Bapak tetap saja ada di sampingmu bukan???” Pak Ren berusaha menenangkan hati Bu Ren istrinya agar bersabar menghadapi penderitaan yang sudah 2 tahun ia rasakan.
Sungguh romantis pasangan suami-istri ini. Walau sudah lama menderita penyakit hingga sebagian tubuhnya tidak dapat berfungsi lagi, Bu Ren tidak pernah merasa kesepian karena Pak Ren selalu setia mendampinginya. Tak pernah sedetikpun Pak Ren meninggalkan Bu Ren. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah tiang yang kokoh yang namanya sudah ditetapkan dalam bahasa latin yaitu Os. Vertebrae(tulang belakang) . Pak Ren berada di sebelah kanan tiang setinggi vertebrae thorakal urutan ke-11 bagian bawahnya, dan Bu Ren berada di sebelah kiri tiang, sedikit lebih tinggi yaitu tepat di bagian atas vertebrae thorakal urutan ke-11.
ginjal kiri lebih tinggi daripada ginjal kanan

Kenapa Bu Ren lebih tinggi sedangkan Pak Ren suaminya harus lebih rendah??? Sebenarnya tinggi mereka sama, hanya letaknya yang agak berbeda. Ini dikarenakan kebaikan hati Pak Ren yang memberikan tempat untuk seorang dermawan yang memiliki ukuran paling besar di antara organ tubuh lainnya, siapa lagi kalau bukan Mama Hepar. Mama Hepar ini sehari-hari kerjanya menghasilkan banyak sekali enzim-enzim yang akan digunakan untuk mempercepat metabolism di tubuh mahluk bernama manusia ini. Sebagai seorang yang sangat berjasa, beliau patut untuk diberikan kehormatan dengan melapangkan sedikit daerah yang akan ditempatinya. Tak kalah dermawan juga dengan Pak Ren ini, beliau rela menyediakan tempat lapang itu walau harus menduduki posisi lebih rendah dari istrinya. Beliau berpendapat bahwa posisi itu tidaklah selamanya menentukan kedudukan seseorang. Beliau yakin, walau posisinya lebih rendah, namun kedudukannya tetap tinggi dipandangan istri yang sangat disayanginya.
Pak Ren dan Bu Ren pasutri yang sangat setia ini bekerja sebagai penyaring darah manusia. Sekitar 20%-25% darah yang dicurahkan oleh Pak Cor yang kalau dihitung per liternya itu sekitar 1100 liter setiap menit, melewati mereka berdua. Darah yang tersaring yang berhasil melewati glomerulus, penyaring dalam tubuh Ren ini sekitar 125 ml dalam setiap menitnya. Sisa darah yang tidak tersaring yang sudah bersih dari segala sampah-sampah sisa metabolism tubuh, sebut saja limbah pabrik akan terus dialirkan mengikuti aliran darah dan kembali lagi ke tempat asalnya ke rumah Pak Cor.
Bagaimana bisa mereka melakukan pekerjaan berat seperti itu??? Padahal tubuh mereka itu sangat kecil. Tak lebih dari 1% dari berat tubuh manusia yang kalau ditimbang hanya sekitar 125 gram. Nah, inilah kelebihan dari Pak Ren dan Bu Ren, pasutri yang saling setia.
Mari kita lanjutkan kisah hidupnya.
Sebenarnya hidup Bu Ren dan Pak Ren sangat bahagia. Mereka berdua setiap saat melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai penyaring dan pembersih darah. Mereka bekerja sama tak kenal lelah. Tak pernah sedikitpun mereka mengeluh dengan beban berat yang mereka pikul. Mereka tak pernah merasa kesal walau harus dilewati ratusan bahkan ribuan racun-racun yang bisa merusak sistem pemerintahan jika jumlah mereka terlalu banyak beredar di darah. Dilewati yang asam maupun yang basa (pahit). Mereka tak peduli. Satu detik sajamereka istirahat dari menyaring darah, maka kestabilan sistem pemerintahan negeri manusia akan terganggu. Namun tak pernah terpikir sedikitpun oleh mereka untuk meninggalkan tugas mulia tersebut.
Semenjak 2 tahun terakhir ini, kebahagiaan mereka sirna. Bu Ren harus merelakan sebagian tubuhnya rusak karena seonggok batu kecil yang kian lama kian membesar menempel di tubuhnya. Bagian pelvisnya (penghubung antara ginjal dan ureter/saluran urin ke kandung kemih) harus merasakan tusukan-tusukan dari batu itu. Sakit sekali. Bu Ren sekarang tidak bisa bekerja dengan maksimal. Beliau harus menahan rasa sakit itu hingga batu itu hilang dari tubuhnya.
Kenapa batu ini bisa muncul di tubuh Bu Ren? Ikuti kisah selanjutnya di bagian kedua.

***
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar