Rabu, 26 September 2012


UPAYA PENURUNAN HIPERTENSI DENGAN PEMBERIAN EKSTRAK KAYU SECANG (CAESALPINIA SAPPAN L)
DI KOTA PONTIANAK

Disusun Oleh:
Kelompok 10
1.      Arrany Rahmaning Safitri   (I11109092)
2.      Gagat Adiyasa                       (I11109071)
3.      Hardianto                               (I11109066)
4.      Lida Febriana                        (I11109056)
5.      Natuna Adiputra                   (I11109095)
6.      Nopitasari                              (I11109065)
7.      Rianti Muharromi                 (I11109033)
8.      Riyang Pradewa                    (I11109035)
9.      Suci Permatasari                   (I11109040)


 






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2009-2010

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.......................................................................................................    i BAB I PENDAHULUAN      ............................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang...................................................................................    2
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................    2
1.3 Hipotesis............................................................................................    2
1.4 Tujuan Penelitian...............................................................................    2
1.5 Manfaat Penelitian.............................................................................    2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................    3
2.1 Secang (Caesalpinia sappan L.)........................................................    3
2.1.1 Definisi Secang (Caesalpinia sappan L.)..................................    5
2.1.2 Klasifikasi Secang (Caesalpinia sappan L.) ............................    5
2.1.3 Ciri-ciri Secang (Caesalpinia sappan L.) .................................    5
2.1.4 Kandungan Secang (Caesalpinia sappan L.)............................    5
2.1.5 Manfaat Secang (Caesalpinia sappan L.) ................................    5
2.1.6 Distribusi/penyebaran Secang (Caesalpinia sappan L.) ...........    5
2.2 Hipertensi...........................................................................................    3
2.2.1   Definisi hipertensi...................................................................
2.2.2   Klasifikasi hipertensi...............................................................
2.2.3   Etiologi hipertensi...................................................................
2.2.4   Epidemiologi hipertensi..........................................................
2.2.5   Pravelensi hipertensi...............................................................
2.2.6   Gambaran klinis hipertensi......................................................
2.2.7   Patofisiologi hipertensi...........................................................
2.2.8   Pathogenesis hipertensi...........................................................
2.2.9   Diagnosis terhadap hipertensi.................................................
2.2.10 Pencegahan hipertensi.............................................................
2.2.11 Pengobatan hipertensi.............................................................
2.2.12 Prognosis hipertensi................................................................
2.3 Kerangka Teori..................................................................................    9
BAB III METODOLOGI PENELITIAN..........................................................    11
3.1 Desain Penelitian...............................................................................    11
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian............................................................    11
3.3 Populasi dan Sampel..........................................................................    12
3.4 Sampel dan Cara Pemilihan Sampel..................................................    12
3.5 Estimasi Besar Sampel.......................................................................    12
3.6 Kriteria Inklusi dan Eksklusi.............................................................    13
3.7 Persetujuan Setelah Penjelasan/Informed Consent............................    13
3.8 Cara Pengumpulan Data....................................................................    14
3.8.1 Alokasi Subyek.........................................................................    14
3.8.2 Cara Pengambilan Sampel........................................................    14
3.8.3 Kriteria Penghentian Penelitian................................................    14
3.9 Identifikasi Variabel..........................................................................    14
3.10 Definisi Operasional........................................................................    15
3.11 Rencana Pengolahan dan Analisis Data..........................................    15
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................    16
LAMPIRAN........................................................................................................    17





 BAB 1
 PENDAHULUAN


1.1   LATAR BELAKANG
Menurut WHO, prevalensi hipertensi di negara maju berkisar 20% sedangkan di Indonesia berkisar 10%. Data SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) tahun 1992 dikatakan bahwa penyebab kematian terbanyak 16,4% disebabkan oleh karena penyakit jantung dan pembuluh darah yang di antaranya adalah hipertensi, sedangkan kematian terbanyak akibat penyakit ini dijumpai pada usia 44 tahun ke atas. Jumlah yang cukup besar ini tentunya berpengaruh terhadap produktivitas kerja penderitanya karena  menyerang pada usia produktif. Penderita usia lanjut akan menjadi beban perekonomian terutama dalam lingkup keluarga karena biaya pengobatan dan obat yang sering sekali berlangsung seumur hidup.
            Obat untuk hipertensi semakin berkembang dari tahun ke tahun. Penelitian-penelitian untuk menemukan obat dengan efektivitas yang lebih baik dan efek yang seminimal mungkin terus berlanjut. Namun di sisi lain secara turun temurun sebenarnya telah dikenal pengobatan tradisional untuk mengatasi hipertensi. Penggunaan obat tradisional sudah cukup luas dan diakui secara empiris banyak membantu mengurangi keluhan pada penderita hipertensi. Pengobatan tradisional ini secara tersamar telah mendampingi obat modern bahkan keberadaannya mendahului pengobatan modern yang sekarang lebih dikenal dan diakui.
            Peneliti tertarik untuk meneliti kayu secang karena memiliki kandungan kimia antara lain asam galat, brazilin, brasilein, delta-α Phellandrene, oscimene, resin, reorsin, minyak astiri, dan tanin. Efek farmakologis tanaman secang antara lain penghenti pendarahan, pembersih darah, pengelat, kontrasepsi alami karena menghambat pematangan sperma, penawar racun, obat mencret, obat batuk, dan obat luka dan obat anti septic (Hariana, 2006).
            Sehubungan dengan keadaan tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji penggunaan secang (Caesalpinea sappan l.) sebagai obat hipertensi yang dilaksanakan di Kota Pontianak oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan program studi Pendidikan Dokter Universitas Tanjungpura.


1.2 RUMUSAN MASALAH
Apakah ekstrak kayu secang dapat menurunkan tekanan darah penderita hipertensi?

1.3 HIPOTESIS
      Ekstrak kayu secang dapat menurunkan tekanan darah penderita hipertensi.     

1.4 TUJUAN PENELITIAN
1.4.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui pengaruh ekstrak kayu secang terhadap penurunan hipertensi.
1.4.2 Tujuan khusus
1) Mengetahui perbedaan antara penderita hipertensi yang sering, jarang, dan tidak mengonsumsi ekstrak kayu secang.
2) Mengetahui manfaat dan faktor pencegah ekstrak kayu secang terhadap hipertensi.
3) Mengetahui kandungan ekstrak kayu secang yang dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.

1.5 MANFAAT PENELITIAN
1.5.1 Bagi peneliti
Mengetahui manfaat dan pengaruh ekstrak kayu secang terhadap penderita hipertensi.
1.5.2 Bagi masyarakat
Dapat meningkatkan kesehatan masyarakat serta mendapatkan pengetahuan mengenai hipertensi meliputi cara pencegahan dan pengobatan hipertensi.
1.5.3 Bagi pemerintah
     Dapat melakukan tindak lanjut berupa penatalaksanaan dan pencegahan hipertensi.
1.5.4 Bagi ilmu pengetahuan
     Dapat mengembangkan ilmu kedokteran dan farmakologi
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 SECANG (CAESALPINIA SAPPAN L.)

2.1.1. Definisi Secang (Caesalpinia sappan L.)
Tanaman secang adalah tanaman yang banyak tumbuh di tempat terbuka sampai ketinggian 1700 meter dpl, seperti di daerah pegunungan yang berbatu tetapi tidak terlalu dingin. Secang tumbuh liar dan kadang ditanam sebagai tanaman pagar atau pembatas kebun, dan mempunyai khasiat antara lain penghenti pendarahan, pembersihdarah, pengelat, penawar racun, dan obat antiseptic.
2.1.2 Determinasi Tanaman Secang (Caesalpinia sappan L.)
Klasifikasi Tanaman
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Rosales
Suku : Caesalpiniaceae
Marga : Caesalpinia
Spesies : Caesalpinia sappan L. (Anonim, 2000).
Nama Inggris :  Sappanwood, Indian redwood
Nama Indonesia : Secang, sapan
Nama Lokal: Tanaman kayu secang memiliki nama daerah yang bermacam-bermacam antara lain seupeung (Aceh), sepang (Gayo), sopang (Batang), lacang (Minangkabau), secang (Sunda), soga jawa (Jawa), kayu secang (Jawa Tengah), kayu secang (Madura), cang (Bali), sepang (Sasak), supa (Bima), sepel (Timor), hape (Sawu), hong (Alor), sepe (Roti), kayu sema (Manado), dolo (Bare), sapang (Makasar), sepang (Bugis), sepen (Halmahera Selatan), savala (Halmahera Utara), sungiang (Ternate), roro (Tidore) (Anonima, 2000).

2.1.3 Ciri-ciri Secang (Caesalpinia sappan L.)
Morfologi Tanaman
2.1.3.1 Habitus
Habitus tanaman secang berupa perdu, dan tanaman bisa mencapai ketinggian ± 6 m (Anonima, 2000).
2.1.3.2 Batang
Batang tanaman secang berkayu berbentuk bulat, berwarna hijau Kecoklatan, batang kasar, dan berduri tersebar (Anonima, 2000).
2.1.3.3 Daun
Tanaman secang memiliki daun majemuk, menyirip ganda, dengan panjang 25 - 40 cm, jumlah anak daun 10-20 pasang, berbentuk lonjong, pangkal rompang, dengan ujung bulat, bertepi rata, panjang 10-25 mm, lebar 3-11 mm, dan berwarna hijau (Anonima, 2000).
2.1.3.4 Bunga
Tanaman secang memiliki bunga majemuk, berbentuk malai, berada di ujung batang, dengan panjang 10-40 cm. Tanaman ini juga, memiliki kelopak berjumlah lima, berwarna hijau, dengan benang sari 15 mm, panjang putik 18 mm, dengan mahkota berbentuk tabung, dan berwarna kuning (Anonima, 2000).
2.1.3.5 Buah
Tanaman secang memiliki buah berupa polong, dengan panjang 8-10 cm, lebar 3-4 cm, ujung seperti paruh, berisi 3-4 biji, dan berwarna hitam (Anonima, 2000).
2.1.3.6 Biji
Tanaman secang memiliki biji berbentuk bulat panjang, dengan panjang 15-18 mm, tebal 5-7 mm, dan berwarna kuning kecoklatan (Anonima, 2000).

Sifat  : tidak berbau, rasa agak kelat
Pemeriksaan Makroskopi
Kayu berbentuk potongan-potongan atau kepingan dengan ukuran sangat bervariasi atau berupa serutan-serutan : keras dan padat ; warna merah jingga atau kuning.
Xilem : jelas, radier dengan jari-jari xilem terdiri dari 1 sampai 3 baris sel yang berisi butir pati kecil, tunggal dan berkelompok. Pembuluh kayu atau trakhea : umumnya berkelompok, kadang-kadang tunggal, garis tengah 25 µm sampai 120 µm, dinding tebal, berlignin, bernoktah yang berupa noktah halaman dengan lubang berbentuk celah, lumen umumnya berisi zat yang berwarna merah keunguan, merah kekuningan sampai merah kecoklatan.
Serabut xilem : berkelompok, tersusun radier, terdiri dari 5 sampai 40 serabut, dinding serabut tebal berlignin, lumen sempit, kelompok serabut diliputi seludang sel parenkim, sel parenkim umumnya berisi hablur kalsium oksalat berbentuk prisma, ukuran hablur 3 µm sampai 20 µm, umumnya 15 µm
Serbuk : warna jingga kecoklatan. Fragmen pengenal adalah berkas serabut dengan seludang hablur kalsium oksalat berbentuk prisma; fragmen pembuluh kayu berpenebalan jala; fragmen serabut, umumnya panjang dan lumen sempit

2.1.4 Kandungan Secang (Caesalpinia sappan L.)
Tanaman secang kaya akan kandungan kimia. Kayunya mengandung asam galat, brasilin, brasilein, delta-α phellandrene, oscimene, resin, resorsin, minyak atsiri, dan tanin. Sementara daunnya mengandung 0,16-0,20% minyak atsiri yang beraroma enak dan tidak berwarna (Hariana, 2006).
Daun dan batang secang mengandung saponin dan flavonoid.
Kandungan kimia tanaman secang sebagai berikut:
2.1.4.1Saponin
Saponin mengandung aglykon polisiklik yang khasnya adalah berbuih saat dikocok dengan air. Kemampuan berbusa saponin disebabkan oleh bergabungnya saponegin nonpolar dan sisi rantai yang larut dalam air. Saponin menyebabkan rasa pahit pada tumbuhan seperti secang.
2.1.4.2 Flavonoid
Flavonoid merupakan golongan senyawa bahan alam dari senyawa fenolik yang banyak merupakan pigmen tumbuhan. Fungsi kebanyakan flavonoid dalam tubuh manusia adalah sebagai antioksidan. Antioksidan melindungi jaringan terhadap kerusakan oksidatif akibat radikal bebas yang berasal dari proses-proses dalam tubuh atau dari luar, dan memiliki hubungan sinergis dengan vitamin C (meningkatkan efektivitas vitamin C).
Dalam banyak kasus, flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan mengganggu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri atau virus.
2.1.4.3 Polifenol
Polifenol memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa kelompok polifenol memiliki peran sebagai antioksidan.
2.1.4.4 Minyak atsiri
Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Beberapa jenis minyak atsiri digunakan sebagai bahan astiseptik internal dan eksternal, untuk bahan analgesic, haemolitic atau sebagai antizymatic serta sebagai sedavita dan stimulans untuk obat sakit perut.

2.1.4.5 Tanin dan Asam Galat
Tanin adalah komponen zat organik yang sangat komplek dan terdiri dari senyawa fenolik yang mempunyai berat molekul 500 – 3000, dapat bereaksi dengan protein membentuk senyawa komplek larut yang tidak larut. Tanin bersifat sebagai antibakteri dan astringent atau menciutkan dinding usus yang rusak karena asam atau bakteri. Kadar tanin ekstrak kayu secang yang diperoleh dengan perebusan selama 20 menit adalah 0,137%
Tanin dan asam galat dalam secang diduga berperan dalam menghentikan pendarahan.
2.1.4.6 Brasilin
Basilin/brazilin adalah golongan senyawa yang memberi warna merah pada kayu secang dengan struktur C6H14O5 dalam bentuk kristal berwarna kuning sulfur, larut air dan berasa manis, akan tetapi jika teroksidasi akan menghasilkan senyawa brazilein yang berwarna merah kecoklatan. Brazilin merupakan senyawa antioksidan yang mempunyai katekol dalam struktur kimianya. Berdasarkan aktivitas antioksidnnya, brazilin diharapkan mempunyai efek melindungi tubuh dari keracunan akibat radikal kimia. Brazilin juga diduga mempunyai efek anti-inflamasi.

2.1.5 Manfaat Secang (Caesalpinia sappan L.)
Kayu C. sappan L. berkhasiat sebagai obat mencret, obat batuk dan obat luka (Anonima, 2000). Efek farmakologis tanaman secang antara lain penghenti pendarahan, pembersih darah, pengelat, kontrasepsi alami karena menghambat pematangan sperma, penawar racun dan obat anti septik (Hariana,2006).

2.1.6 Distribusi/penyebaran Secang (Caesalpinia sappan L.)
Asal usul daerah asli Kayu Secang belum diketahui. Namun ada yang menganggap berasal dari daerah bagian tengah dan selatan India, kemudian ke Burma, Thailand, Indo-Cina dan Cina Selatan hingga ke Semenanjung Malaysia. Tumbuhan ini telah dibudidayakan dan telah dapat tumbuh secara alami di banyak tempat di Malesia (Indonesia, Filippina, Papua New Guinea) dan juga di India, Sri Lanka, Taiwan, Kepulauan Solomon, dan Hawaii.Banyak tumbuh di pekarangan daerah Jawa, juga dijumpai di pegunungan berbatu pada daerah yang tidak terlalu dingin di Sulawesi Selatan.
Di habitat alaminya, sebagian besar pohon Kayu secang tumbuh pada tempat-tempat yang berbukit dengan tipe tanah seperti liat dan berbatu-batu, pada daerah dengan ketinggian tempat rendah dan sedang. Di semenanjung Malaysia, pohon ini tumbuh dengan sangat baik pada tepi-tepi sungai yang berpasir. Pohon ini tidak toleran pada tanah-tanah yang terlalu basah. Pohon kayu secang tumbuh pada lokasi-lokasi yang memiliki kisaran curah hujan tahunan 700-4300 mm, rata-rata suhu udara tahunan adalah 24-27.5°C, dan dengan kisaran pH tanah adalah 5-7,5. Tumbuhan ini banyak dijumpai pada dataran rendah hingga ketinggian 1700 m dpl.

2.2 HIPERTENSI
2.2.1   Definisi hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah arterial tinggi;berbagai criteria sebagai batasnya telah di ajukan, berkisar dari sistol 140 mmHg dan diastol 90 mmHg hingga setinggi sistol 200 mmHg dan diastol 110 mmHg.(Dorland)

2.2.2   Klasifikasi hipertensi
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri.
Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik).
Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.
Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.     
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.
Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak diobati, akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan. Hipertensi ini jarang terjadi, hanya 1 dari setiap 200 penderita hipertensi.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa.
Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari.

Tabel I. Klasifikasi tekanan darah untuk orang dewasa yang berusia 18 tahun atau lebih.1
Kategori
Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)
Optimal
Normal
Normal tinggi
Hipertensi
Derajat I
Derajat II
Derajat III
< 120
<130
130 – 139

140 – 159
160 – 179
≥ 180
dan
dan
atau

atau
atau
atau
< 80
<85
85 – 89

90 – 99
100 – 109
≥ 110
Sumber : The sixth Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure, sixth report  (JNC VI). Dikutip oleh Debra A. Krummel. Medical Nutrition Therapy in Hypertension. Dalam L. Kathleen M, Sylvia Escoott. Krause’s Food, Nutrition, & Diet Therapy. USA: Elsevier; 2004

2.2.3   Etiologi hipertensi
Pada sekitar 90% penderita hipertensi, penyebabnya tidak diketahui dan keadaan ini dikenal sebagai hipertensi esensial atau hipertensi primer.
Hipertensi esensial kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan.
Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
1)      Penyakit Ginjal
2)      Stenosis arteri renalis
3)      Pielonefritis
4)      Glomerulonefritis
5)      Tumor-tumor ginjal
6)      Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
7)      Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
8)      Terapi penyinaran yang mengenai ginjal

Kelainan Hormonal
1)      Hiperaldosteronisme
2)      Sindroma Cushing
3)      Feokromositoma

Obat-obatan
1)      Pil KB
2)      Kortikosteroid
3)      Siklosporin
4)      Eritropoietin
5)      Kokain
6)      Penyalahgunaan alkohol
7)      Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)

Penyebab Lainnya
1)      Koartasio aorta
2)      Preeklamsi pada kehamilan
3)      Porfiria intermiten akut
4)      Keracunan timbal akut.

2.2.4   Epidemiologi hipertensi
Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Semakin meningkatnya populasi usia lanjut maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga akan bertambah. Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, di perkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini.
Hasil penelitian Oktora (2007) mengenai gambaran penderita hipertensi yang dirawat inap di bagian penyakit dalam RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2005 didapatkan penderita hipertensi meningkat secara nyata pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu sebesar 24,07% dan mencapai puncaknya pada kelompok umur 65 tahun yaitu sebesar 31,48%. Jika dibandingkan antara pria dan wanita didapatkan wanita lebih banyak menderita hipertensi yaitu sebesar 58,02% dan pria sebesar 41,98%.

2.2.5   Pravelensi hipertensi
Prevalensi merupakan salah satu penyakit utama di dunia prevalensi hipertensi semakin meningkat, hampir 972 juta penduduk dunia saat ini mengalami hipertensi.
Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan menunjukkan di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case finding maupun penatalaksanaan  pengobatannya. Jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan.
Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15%, tetapi angka prevalensi yang rendah terdapat di Ungaran, Jawa Tengah sebesar 1,8% dan Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya sebesar 0,6% selanjutnya angka prevalensi tertinggi di Talang Sumatera Barat 17,8%. Sedangkan angka kejadian penderita hipertensi di RSUD Sudarso sendiri yaitu sekitar 240 orang pada tahun 2009 dan 50 orang pada tahun 2010.

2.2.6   Gambaran klinis hipertensi
Gejala
   Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : ( Edward K Chung, 1995)

2.2.6.1 Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
2.2.6.2 Gejala Yang Lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Pemeriksaan Penunjang
1. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh
2. Pemeriksaan retina
3. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti ginjal dan jantung
4. EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri
5. Urinalisa untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa
6. Pemeriksaan : renogram, pielogram intravena arteriogram renal, pemeriksaan fungsi ginjal terpisah dan penentuan kadar urin.
7. Foto dada dan CT scan
<Pengkajian
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler
Tanda : Kenaikan TD, hipotensi postural, takhikardi, perubahan warna kulit, suhu dingin
3. Integritas Ego
Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, factor stress multipel
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian, tangisan yang meledak, otot muka tegang, pernapasan menghela, peningkatan pola bicara
4. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu
5. Makanan / Cairan
Gejala : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, lemak dan kolesterol
Tanda : BB normal atau obesitas, adanya edema
6. Neurosensori
Gejala : keluhan pusing/pening, sakit kepala, berdenyut sakit kepala, berdenyut, gangguan penglihatan, episode epistaksis
Tanda :, perubahan orientasi, penurunan kekuatan genggaman, perubahan retinal optik
7. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat, nyeri abdomen
8. Pernapasan
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea, ortopnea, dispnea nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok
Tanda : distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan, bunyi napas tambahan, sianosis
9. Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi, cara jalan
Tanda : episode parestesia unilateral transien, hipotensi postural
10. Pembelajaran/Penyuluhan
Gejala : factor resiko keluarga ; hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM , penyakit ginjal Faktor resiko etnik, penggunaan pil KB atau hormone
1.      Penggolongan Tekanan Darah
Tekanan Darah
Sistolik
(angka pertama)
Diastolik
(angka kedua)
Darah rendah atau hipotensi
Di bawah 90
Dibawah 60
Normal
90 – 120
60 – 80
Pre-hipertensi
120 – 140
80 - 90
Hipertensi (stadium 1)
140 – 160
90 – 100
Hipertensi (stadium 2/ berbahaya)
Di atas 160
Di atas 100


2.2.7   Patofisiologi hipertensi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
2.2.8   Pathogenesis hipertensi
            Pathogenesis hipertensi merupakan interaksi dari faktor genetik dan faktor lingkungan. Kaitan kedua faktor tersebut dibuktikan dari adanya gen-gen yang mengatur respon tubuh terhadap pengaruh factor lingkungan seperti stress dan diet.
Pathogenesis Hipertensi
Hipertensi merupakan penyakit yang multifaktor diantaranya:
a.       Asupan garam berlebih dapat menyebabkan peningkatan volume cairan sedangkan peningkatan volume cairan menyebabkan peningkatan preload yang berakibat tekanan darah meningkat.
b.      Jumlah nefron yang berkurang dapat menyebabkan retensi natrium ginjal dan penurunan permukaan filtrasi. Apabila terjadi retensi urin pada ginjal volume cairan akan meningkat sehingga terjadi peningkatan tekanan darah.
c.       Stress akan berakibat pada penurunan permukaan filtrasi, aktivitas saraf simpatis yang lebih serta produksi berlebih renin angiotensin. Aktifitas saraf simpatis yang  berlebih mengakibatkan peningkatan kontraktilitas sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Produksi rennin angiotensin yang berlebih mengakibatkan konstriksi fungsionil dan hipertrofi structural sehingga tekanan darah dapat meningkat.
d.      Perubahan genetis dapat menyebabkan perubahan pada membran sel sehingga terjadi konstriksi fungsionil dan hipertrofi structural, akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah. Obesitas juga dapat meningkatkan tekanan darah karena pada obesitas terjadi hiperinsulinemia yang dapat menyebabkan hipertrofi structural. Akibatnya adanya hipertrofi structural, maka terjadilah peningkatan tekanan darah.
e.        Bahan-bahan yang berasal dari endotel juga dapat menyebabkan konstriksi fungsionil dan hipertrofi struktural yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah.   



2.2.9   Diagnosis terhadap hipertensi
Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit. Angka 140/90 mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu kali pengukuran.
Jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi.
Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya tekanan darah tinggi, tetepi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi.
Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama, terutama pembuluh darah, jantung, otak dan ginjal.
Retina (selaput peka cahaya pada permukaan dalam bagian belakang mata) merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara langsung bisa menunjukkan adanya efek dari hipertensi terhadap arteriola (pembuluh darah kecil). Dengan anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan yang terjadi di dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal.
Untuk memeriksa retina, digunakan suatu oftalmoskop. Dengan menentukan derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi.
Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa ditemukan pada elektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada.
Pada stadium awal, perubahan tersebut bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung).
Bunyi jantung yang abnormal (disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar melalui stetoskop dan merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat tekanan darah tinggi.
Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui pemeriksaan air kemih. Adanya sel darah dan albumin (sejenis protein) dalam air kemih bisa merupakan petunjuk terjadinya kerusakan ginjal.
Pemeriksaan untuk menentukan penyebab dari hipertensi terutama dilakukan pada penderita usia muda. Pemeriksaan ini bisa berupa rontgen dan radioisotop ginjal, rontgen dada serta pemeriksaan darah dan air kemih untuk hormon tertentu.
Untuk menemukan adanya kelainan ginjal, ditanyakan mengenai riwayat kelainan ginjal sebelumnya.  Sebuah stetoskop ditempelkan diatas perut untuk mendengarkan adanya bruit (suara yang terjadi karena darah mengalir melalui arteri yang menuju ke ginjal, yang mengalami penyempitan). Dilakukan analisa air kemih dan rontgen atau USG ginjal.
Jika penyebabnya adalah feokromositoma, maka di dalam air kemih bisa ditemukan adanya bahan-bahan hasil penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin.
Biasanya hormon tersebut juga menyebabkan gejala sakit kepala, kecemasan, palpitasi (jantung berdebar-debar), keringat yang berlebihan, tremor (gemetar) dan pucat.
Penyebab lainnya bisa ditemukan melalui pemeriksaan rutin tertentu.
Misalnya mengukur kadar kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanya hiperaldosteronisme dan mengukur tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan adanya koartasio aorta.

2.2.10 Pencegahan hipertensi
Resiko seseorang untuk mendapatkan hipertensi dapat dikurangi dengan cara:
  1. Memeriksa tekanan darah secara teratur
  2. Menjaga berat badan dalam rentang normal
  3. Mengatur pola makan, antara lain dengan mengkonsumsi makanan berserat, rendah lemak dan mengurangi garam.
  4. Hentikan kebiasaan merokok dan minuman beralkohol
  5. Berolahraga secara teratur
  6. Hidup secara teratur
  7. Mengurangi stress dan emosi
  8. Jangan terburu-buru
  9. Mengurangi makanan berlemak

2.2.11 Pengobatan hipertensi
Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologi)
  1. Diuretik
Obat-obatan jenis diuretic bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing) sehingga volume cairan di tubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obatnya adalah Hidroklorotiazid.
  1. Penghambat Simpatetik
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas). Contohnya adalah : Metildopa, Klonidin dan Reserpin.
  1. Betabloker
Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronchial. Contoh obatnya adalah : Metopropol, Propranolol dan Atenolol. Pada penderita diabetes mellitus harus hati-hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati.
  1. Vasodilator
Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot pe,buluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah: Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah: sakit kepala dan pusing.
  1. Penghambat enzim konversi Angiotensin
Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini adalah Kaptoptril. Efek samping yang mungkin timbul adalah: batuk kering, pusing, sakit kepala dan, lemas.

  1. Antagonis kalsium
Golongan obat ini ,emurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah: Nifedipin, Diltiasem, dan Veramil. Efek samping yang mungkin timbul adalah: sembelit, pusing, sakit kepala, dan muntah.

  1. Penghambat Reseptor Angiotensin II
Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Deovan). Efek samping yang mungkin timbul adalah: sakit kepala, pusing, lemas, dan mual. Dengan pengobatan dan control yang teratur, serta menghindari faktor risiko terjadinya hipertensi, angka-angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.

2.2.12 Prognosis hipertensi
Usia, ras, jenis kelamin, kebiasaan mengkonsumsi alkohol, hiperkolesterole-mia, intoleransi glukosa dan berat badan, semuanya mempengaruhi prognosis dari penyakit hipertensi esensial pada lansia. Semakin muda seseorang terdiagnosis hipertensi pertama kali, maka semakin buruk perjalanan penyakitnya apalagi bila tidak ditangani (Fauci AS et al, 1998).
Di Amerika serikat, ras kulit hitam mempunyai angka morbiditas dan mortalitas empat kali lebih besar dari pada ras kulit putih. Prevalensi hipertensi pada wanita pre-menopause tampaknya lebih sedikit dari pada laki-laki dan wanita yang telah menopause. Adanya faktor resiko independen (seperti hiperkolesterolemia, intoleransi glukosa dan kebiasaan merokok) yang mempercepat proses aterosklerosis meningkatkan angka mortalitas hipertensi dengan tidak memperhatikan usia, ras dan jenis kelamin (Fauci AS et al, 1998).



2.3 KERANGKA KONSEP





















Rounded Rectangle: Penderita Hipertensi



Rounded Rectangle: Pemberian Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L)



Rounded Rectangle: Tekanan Darah



Rounded Rectangle: Asupan Garam
Rounded Rectangle: Kebiasaan merokok



Rounded Rectangle: Jenis Kelamin
Rounded Rectangle: Riwayat Keluarga



Rounded Rectangle: Umur






Text Box: Variabel yang tidak diteliti







Text Box: Variabel yang diteliti

 


















BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 DESAIN PENELITIAN  
Desain penelitian yang akan digunakan untuk penelitian ini adalah eksperimetal cross-over. Penelitian ini akan dilakukan dengan pemberian ekstrak kayu secang pada penderita hipertensi.

3.2 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
a. Tempat : Kota Pontianak
b. Waktu : 01 Mei 2010 – 01 Oktober 2010

3.3 POPULASI DAN SAMPEL
a. Populasi target
Penderita hipertensi di kota Pontianak.
b. Populasi terjangkau
Penderita Hipertensi yang pernah berobat di RSUD Sudarso pada tahun 2009-2010.

3.4 SAMPEL DAN CARA PEMILIHAN SAMPEL
Sampel yang diambil adalah penderita hipertensi yang pernah berobat di RSUD Sudarso pada tahun 2009 (240 orang) dan 2010 (50 orang).
Sampel diambil dengan teknik non-probability sampling yaitu teknik consecutive sampling yaitu memilih sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria eksklusi.

3.5 ESTIMASI BESAR SAMPEL 
Dalam penelitian ini untuk pengaruh ekstrak kayu secang terhadap penurunan hipertensi yang berjumlah 290 orang (240 pada tahun 2009 dan 50 pada tahun 2010) dengan derajat kemaknaan (CI) sebesar 95% dan estimasi penyimpangan data (a) sebesar 5% dapat diperhitungkan Besar sampel minimum dengan formula sebagai berikut:
n =

n = besar sampel
N = Jumlah populasi
d = tingkat kepercayaan

n =   =  =  = 168
dari perhitungan tersebut didapatkan jumlah sampel minimum 168 sampel.


3.6 KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI
a. Inklusi
Pasien dengan hipertensi pada tahun 2010 di RSUD Sudarso Pontianak.
b. Eksklusi
1) Pasien hipertensi yang menderita penyakit berat lainnya
2) Pasien hipertensi yang minum obat lain selain yang diberikan dalam `      penelitian ini
3) Pasien hipertensi yang tidak bersedia mengikuti prosedur pengobatan dalam penelitian ini.

3.7 CARA PENGUMPULAN DATA      
a. Data primer:
    Questioner
b. Data sekunder
Rekam Medik pasien hipertensi di RSUD Sudarso pada tahun 2009 dan 2010.

3.7.1 Alokasi Subyek
Dalam penelitian ini jumlah sampel sebanyak 168 orang yang dibagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut:
1.      Penderita hipertensi yang mengonsumsi ekstrak secang (Caesalpinea sappan l.) satu gelas per hari. (56 orang)
2.       Penderita hipertensi yang mengonsumsi ekstrak secang (Caesalpinea sappan l.) dua gelas per hari. (56 orang)
3.      Penderita hipertensi yang sama sekali tidak mengonsumsi ekstrak secang (Caesalpinea sappan l.). (56 orang)
3.7.2        Pengukuran dan Intervensi
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Stetoschope, Sphygmomameter air raksa. Adapun bahan yang digunakan adalah ekstrak kayu secang (Caesalpinea sappan l.).
Dalam penelitian ini dilakukan intervensi langsung terhadap subyek penelitian. Subyek penelitian yang menderita hipertensi diberikan minuman ekstrak kayu secang (Caesalpinea sappan l.)

3.7.3 Kriteria Penghentian Penelitian
Penelitian ini akan dihentikan jika kegiatan penelitian ini telah mendapatkan hasil  dari semua sampel yang diteliti sehingga dapat dilakukan pengolahan data.

3.8 IDENTIFIKASI VARIABEL    
a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian ekstrak kayu secang pada penderita hipertensi.
b. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tekanan darah penderita hipertensi.

3.9 RENCANA PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Analisis data dilakukan dengan cara statistic inferensial menggunakan program SPSS versi 17.00 (evaluation) for windows 2007 dengan metode analisis untuk menilai adanya pengaruh pemberian ekstrak kayu secang terhadap tekanan darah.

3.10 DEFINISI OPERASIONAL
3.10.1 Penderita hipertensi adalah penderita yang pernah berobat di RSUD Sudarso Pontianak, dan tercatat dalam buku register, serta bersedia menjadi subjek dalam penelitian ini.
3.10.2 Hipertensi/tekanan darah tinggi: tekanan darah penderita yang terukur yaitu tekanan sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg.
3.10.3 Ekstrak kayu secang (Caesalpinia Sappan L.) : ekstrak kayu secang yang berumur sedang dan menghasilkan warna merah bila direbus dalam air panas selama 5 menit.


3.11 MASALAH ETIKA
a.       Menjaga kerahasiaan
Dalam penelitian ini dibutuhkan kerja sama yang baik dari keluarga subjek untuk mengetahui riwayat penyakit yang bersangkutan. Untuk memperoleh informasi yang akurat diperlukan kepercayaan dari keluarga pasien kepada peneliti. Oleh karena itu etika menjaga kerahasiaan sangat diperhatikan dalam penelitian ini untuk membangun raport yang baik antara peneliti dengan subjek.

b.      Informed Consent
Untuk menjaga etika dalam penelitian maka dalam pengambilan sampel dilakukan informed consent untuk memberikan informasi kepada pihak terkait mengenai penelitian yang akan dilakukan meliputi tujuan, manfaat dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta:  Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Price, Sylvia A., dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Seto, Sagung. 2002. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: KDT.

Chandra, Budiman..1995. Pengantar Statistik Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran EGC.

http/www.medis –medicalinformationsource.com
 Files of DrsMed – FK UNRI (http://yayanakhyar.wordpress.com)