Jumat, 07 September 2012

PANDUAN DIVISI KEWIRAUSAHAAN FKMI IBNU SINA


Sebuah pengabdian dari seorang hamba yang hina kepada Sang Khalik, tak mampu berjihad di medan perang, jihad dengan “cara lain” di medan dakwah pun tetap pengabdian. Dengan memantapkan tujuan dan niat hanya karena Allah semata,
kupersembahkan karya ini untuk generasi jundullah di medan dakwah.

Oleh: Nopitasari (I11109065)
Kadiv Kewirausahaan FKMI IBNU SINA periode 2011/2012

BismillahirrahmaAnirrahim

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasulnya (Muhammad) dan janganlah kamu menghianati amanah-amanh yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui” (QS. Al-Anfal :23)

Segala puji hanya pantas dan berhak kita haturkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita dapat menjalankan amanah yang telah diberikan kepada kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan pengikutnya yang tetap istiqomah berjihad di jalan dakwah hingga akhir zaman.

PENDAHULUAN
“Setiap masa mengalami cara tersendiri dalam menulis, sejalan dengan cara penduduk masa tersebut dalam memahami dan mempelajari sesuatu. Karenanya, harus ada pembaruan sejalan dengan kemajuan akal manusia dan perubahan metode riset, berpikir, dan mengambil kesimpulan. Untuk menjawab perubahan dan kemajuan tersebut tidak cukup hanya dengan kata-kata yang keluar secara refleks, atau ceramah yang membangkitkan perasaan, atau kata-kata yang dapat mengobarkan emosi. Akan tetapi, para aktivis dakwah berkewajiban memberikan gambaran kepada manusia dengan gambaran yang logis, cermat, dan jelas; yang dibangun di atas kaidah-kaidah riset ilmiah; dan membeberkan kepada manusia cara-cara yang aplikatif dan produktif yang telah mereka persiapkan untuk mewujudkan apa yang diinginkan; dan agar dapat mengatasi tantangan yang akan mereka hadapi, maka hal-hal di atas harus ada dalam perjalanan dakwah. (Risalah da’watuna fi Thaurin Jadid, Hasan Al Banna).
Da’wah berasal dari kata da’a, yad’u yang berarti panggilan, ajakan, dan seruan. Sedangkan da’awa merupakan unsur yang bermakna mengajak, meminta, memanggil, dan menyeru. Sesungguhnya, yang perlu kita pahami tentang esensi dakwah adalah bahwa sesungguhnya dakwah merupakan sebuah aktivitas dan upaya untuk mengubah manusia baik individu maupun kolektif dari situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik. Situasi yang lebih baik yang dimaksud dalam keberislaman setelah kejahilan, kesyukuran setelah kekufuran, kesadaran setelah kelupaan, dan kesempurnaan setelah kekurangan.
Dakwah merupakan sesuatu yang menjadi tuntutan dari keberislaman kita. Islam yang kita anut tidak dapat dipisahkan dari kewajiban untuk menyebarkannya, baik dengan perbuatan, lisan, tulisan, maupun dengan hati. Di manapun kita berdiri kini, di bumi manapun Allah memberikan napas kehidupan bagi kita kini, bagaimanapun keadaannya, seperti dan jadi apapun kita, peran dakwah adalah peran yang paling urgen dalam kehidupan kita. Dakwah dalam Islam dilaksanakan pada setiap zaman, dikerjakan di setiap tempat, dilaksanakan dalam kondisi apapun, pada setiap waktu dan oleh setiap generasi. Dari zaman Rasul sampai kita hari ini. “Akan selalu ada dari umat ini, segolongan umat yang akan senantiasa menegakkan urusan (dakwah Islam) ini. Orang-orang yang mendustakan mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka. Demikian pula halnya orang-orang yang memusuhi mereka. Demikianlah keadaannya sampai datangnya urusan Allah dan mereka meraih kemenangan atas manusia.” (HR. Bukhari Muslim)
Dakwah Islam dilaksanakan di setiap tempat, tidak terkecuali di kampus sekalipun. Dakwah kampus merupakan salah satu dari skup kecil wilayah perjuangan dakwah. Dakwah kampus dijalankan dari kampus, oleh civitas akademika (kalangan kampus), demi manfaat untuk kampus sampai masyarakat global. Tujuan dakwah kampus adalah membentuk civitas akademika yang bercirikan intelektualitas dan profesionalitas, memiliki komitmen yang kokoh terhadap Islam, dan mengoptimalkan peran kampus dalam upaya mencapai kebangkitan Islam.
Ciri khas dari gerakan dakwah ideal adalah gerakannya akan senantiasa diawali oleh perbaikan hati lalu bergerak menuju perjuangan menegakkan syariat dalam kehidupan. Motor penggeraknya adalah kaum muda yang memiliki semangat yang membara. Cita-cita mereka adalah kemenangan umat dan kekuasaan Islam, tetapi cita-cita itu tidak berhenti di situ. Cita-cita itu hidup karena dihidupkan oleh hati yang hidup.

A.    MENGAPA KEUANGAN DAN KEWIRAUSAHAAN PENTING???          
Setiap manusia ingin merasakan kenyamanan dalam kehidupannya. Setiap insan ingin agar kehidupannya mudah dan dipermudah. Setiap manusia tidak menginginkan perjumpaan dengan kesukaran, penderitaan, kemalangan, kehinaan, dan kawan-kawannya. Setiap manusia ingin merasakan kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kenyamanan, dan keadaan baik lainnya. Namun, kenyataan hidup menunjukkan hukum perbandingan, memenuhi hukum pertentangan, dan mengikuti hukum perbedaan. Ada senang, ada duka; ada mudah, ada sukar; ada menang, ada kalah, dan ada miskin, ada kaya.
Kaya adalah sebuah harapan. Dia adalah cita-cita. Setiap orang pada dasarnya ingin kaya. Persoalannya, bagaimana kita mencapai derajat kekayaan itu dan derajat kekayaan seperti apa yang mesti kita capai. Idealnya setiap muslim harus kaya. Kaya di sini bukanlah diartikan hanya sebatas pada harta benda, karena kekayaan tidak terbatas di situ. Kekayaan terlalu luas untuk hanya diartikan sebagai keberlimpahan harta. Terlalu sempit andaikata kita mengatakan bahwa kekayaan hanya materi semata.
Setiap kekayaan yang dimiliki harus sepenuhnya mampu memberikan kontribusi bagi dakwah yang kita jalankan.  Dakwah kampus sebagai ladangnya dakwah para civitas akademika juga perlu kaya. Baik itu kekayaan materi, maupun kekayaan spiritual. Dakwah kampus harus mengikuti hukum kekayaan.  Dakwah kampus harus kaya dalam ide, visi, gagasan, dan cita-cita. Dakwah kampus harus menjadi gerakan yang kaya akan inovasi dan kreativitas. Dakwah kampus juga mesti kaya dalam wawasan dan keilmuan. Dakwah kampus harus kaya sebab kemenangan membutuhkan harga mati. Hanya yang kaya yang dapat menang. Dengan kekayaan kemenangan akan diraih. Kekayaan mencerminkan kemampuan, kepantasan, dan kekuatan.
Tak kalah pentingnya, dakwah kampus juga harus menjadi gerakan yang kaya finansial, kaya dalam hal materi. Betapa banyak gerakan bermunculan, tetapi tidak berapa lama kemudian hilang ditenggelamkan keadaan, ditinggalkan zaman, ataupun dilupakan semesta. Salah satunya adalah karena ketidakkayaan mereka secara finansial.
Agar dapat memperkaya diri, dakwah kampus memerlukan dapur perusahaan. Dakwah kampus perlu mempunyai bidang yang mengurusi masalah finansial. Dakwah kampus perlu mempunyai unit-unit usaha mandiri dan syar’i, berjalan sebagai penerapan ekonomi Islam. Perlu adanya rekayasa dan perwujudan rekayasa finansial melalui berbagai program dan perusahaan sederhana dan permanen. Perlu adanya kerjasama usaha dengan elemen masyarakat lainnya agar gerakan dakwah tidak hanya mengandalkan hibah donatur dan proposal.
B.     MENGAPA MENGGALANG DANA ITU PENTING???
            Salah satu hal yang harus disadari oleh LDF adalah bahwa kebutuhan akan dana adalah hal yang sangat vital dan tidak dapat dipandang remeh. Memang untuk berdakwah tak selalu memerlukan dana, akan tetapi kita sudah faham bahwa tanpa dana yang cukup “acara-acara” dakwah kita tidak berjalan secara optimal. Sebagai lembaga dakwah yang mengusung nama kampus di dalamnya, akan sangat naïf kalau kemudian terlihat ‘tidak cerdas’ dalam mengumpulkan dan meng’create’ dana. Menggalang dana adalah unsur yang sangat penting karena menentukan berhasil tidaknya organisasi lembaga dakwah fakultas. Sebab-sebabnya antara lain:
Bertahan hidup
      Semua organisasi perlu uang agar dapat bertahan hidup. Daftar kebutuhan panjang sekali. Dan jika uang tidak dihimpun, lembaga dakwah fakultas tidak akan dapat melakukan kegiatan. Dan jika kegiatan tidak dapat dilakukan, maka semua program dakwah yang telah direncanakan tidak dapat berjalan.
      KWU dapat menggunakan anggaran tahunan LDF sebagai alat untuk mengelola penggalangan dana. Anggaran tahunan menunjukkan jumlah uang yang LDF rencanakan untuk dibelanjakan dan juga menunjukkan jumlah uang yang sudah terhimpun, dan berapa besar dana tambahan yang masih perlu dicari selama tahun anggaran agar KWU dapat membiayai semua pengeluaran LDF.
      Seorang bendahara juga harus memantau kemajuan yang dicapai dalam menggalang dana dengan cara mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan cermat, dan dengan cara menyiapkan laporan keuangan dan membahasnya secara berkala dengan pimpinan organisasi (bisa sebulan sekali, atau tiga bulan sekali). Jika dana yang terhimpun lebih keicl dari rencana, maka KWU harus mengambil langkah-langkah tertentu misalnya menjalankan upaya-upaya yang lebih besar untuk menggalang dana, menghemat pengeluaran, menunda proyek atau pelaksanaan program kerja, atau membiayai defisit dari dana cadangan.
Sebagian uang yang masuk ke dalam  kas kita haruslah diatur agar berkembang produktif. Dengan produksi yang melimpah, dakwah kampus diharapkan dapat mendistribusikan kebaikan dan manfaat kepada sesama. Dengan kekayaan harta yang melimpah, diharapkan pula dakwah kampus dapat memberikan bantuan pendanaan kepada sesama (personel gerakan ataupun bukan). Dapat berupa beasiswa, bantuan kemanusiaan, pendanaan bakti sosial, bahkan dana untuk kerja lembaga dakwah itu sendiri, seperti biaya administrasi, biaya agenda kajian, percetakan buletin, biaya perayaan hari raya kurban, dan lain-lain. Maka dari itu, suatu bidang yang mengurusi keuangan ini sangat dibutuhkan dan merupakan bidang penting yang harus ada dalam dakwah kampus.

C.     KEWIRAUSAHAAN LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS
            Pendanaan pada LDF merupakan sebuah komponen penting dalam menjalankan roda dakwah. Pada bagian ini menjelaskan tentang anggaran pendanaan, sumber keuangan lembaga dan pengelolaan dana kepengurusan.

1.      VISI DAN MISI
VISI: Keuangan sebagai sumber dana mandiri dakwah kampus yang berbasis ekonomi syariah untuk mewujudkan masyarakat madani.
MISI:
-          Harmonisasi dan sinergisitas program kerja lembaga dakwah antara BKMI dan LDF
-          Membangun LDK mandiri
-          Membangun masyarakat madani berbasis ekonomi syariah

2.      ANALISI SWOT
            Analisis SWOT (strength-weakness-opportunity-threat) mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pada organisasi dan kegiatan menggalang dana. Dengan melakukan SWOT, Anda dapat:
-          Mengembangkan metode-metode penggalangan dana yang dibangun di atas kekuatan Anda.
-          Menghindari kelemahan-kelemahan atau mencari cara untuk mengimbangi kelemahan-kelemahan itu.
-          Meraih peluang-peluang yang terbuka.
-          Mengembangkan cara-cara untuk mengatasi ancaman-ancaman yang muncul.
a.       STRENGTH
-          Mendapatkan dana budget dari fakultas
-          Ide-ide untuk usaha kreatif
-          Adanya kerjasama dengan forum keuangan se-UNTAN
b.      WEAKNESS
-          Kebutuhan dana untuk aktifitas lembaga lebih besar dari pemasukan
-          Belum memiliki badan usaha yang permanen
-          Padatnya jadwal tiap prodi
c.       OPPORTUNITY
-          Masyarakat FKIK yang semakin ramai
-          Masyarakat FKIK yang konsumtif
-          Adanya peluang untuk membangun jaringan dari pihak luar
d.      THREATH
-          Kurangnya partisipasi dan semangat dari anggota
-          Ketidakteraturan jadwal tiap prodi

3.      TARGET
1)      Internal
-          Peningkatan sistem keuangan yang professional
-          Dapat mengembangkan jiwa dan skill kewirausahaan
Menghasilkan laba sebesar Rp. 10.000.000,- selama satu periode
2)      Eksternal
-          Dapat memberikan citra positif lembaga
-          Terbangun jaringan dengan lembaga lainnya dalam hal kewirausahaan
4.      BUSINESS PLAN
Usulan beberapa Bussiness Plan yang cukup realistis (kondisional) dijalankan:
1.      Voucher pulsa elektronik
2.      Penjualan alat tulis dan DHK
3.      Jasa print
4.      Kantin jujur
5.      Bazar makanan dan minuman
6.      Penjualan buku dan alat kesehatan
7.      Pemesanan kue seperti risoles, kek bolu, dan lain-lain
8.      Penjualan pakaian dan aksesoris wanita
9.      Penjualan souvenir berupa pin, gantungan kunci, boneka, tempat pensil, tempat hp, mug, stiker, dan lain-lain.

D.    KOLABORASI
            Berkolaborasi adalah bekerja sama dengan badan atau lembaga lain yang sejenis maupun tidak sejenis untuk mencapai tujuan bersama. Kolaborasi dilakukan agar visi dan misi organisasi bisa dicapai dan organisasi bisa berkembang. Syarat keberhasilannya hanyalah kejujuran, transparansi, konsistensi, saling percaya.

E.     FUNDRAISING
            Fundraising disebut juga penggalangan dana. Kegiatan dakwah kampus merupakan organisasi non-profit yang tak jauh dari penggalangan dana. Tujuannya bisa dua, yaitu untuk disalurkan keluar seperti santunan kepada yatim piatu, penggalangan dana untuk korban gempa, banjir, dan sebagainya; dan dana untuk operasional dakwah kampus. Pada saat penggalangan dana, pengurus organisasi dakwah kampus harus banyak melakukan kontak keluar untuk mempublikasikan kegiatan supaya tujuan kegiatan ini tercapai, yaitu mengumpulkan dana yang cukup atau berlebih untuk mencapai tujuan tersebut.
            Untuk menggalang dana secara efektif dibutuhkan jam kerja yang panjang, kerja keras, kemampuan berkomunikasi, dan pengetahuan yang cukup mendalam mengenai berbagai teknik yang dapat digunakan untuk menghimpun dana, dan semua ini didukung oleh bagian kewirausahaan yang efektif dan cekatan.
            Satu hal yang penting dan turut menentukan efektivitas dan dampak dari sebuah program dakwah kampus adalah tersedianya dana dan segala pendukung yang diperlukan. Seringkali terjadi program yang kuat, tetapi tidak dapat dilaksanakan secara optimal karena keterbatasan dana, sehingga hasilnya kurang signifikan atau berhenti di tengah jalan. Sebuah perencanaan yang matang harus dipikirkan jauh hari seiring dengan rancangan pengembangan program dalam sebuah lembaga dakwah fakultas.

1.      BENTUK KEGIATAN PENGGALANGAN DANA
Penggalangan dana juga mempertimbangkan berbagai kegiatan untuk menggalang dana.
a.       Meminta sumbangan via media
Meminta sumbagan dapat dilakukan melalui sms atau jejaring sosial, misalnya penggalangan dana untuk orang-orang yang terkena musibah, bencana alam, kematian, dan lain-lain.
b.      Menggalang dana melalui hubungan sosial
Acara-acara bakti sosial ataupun jalan sehat dapat dijadikan kegiatan penggalangan dana karena di situ terkumpul banyak massa sehingga akan dengan mudah menjual produk-produk ataupun mengedarkan kotak amal sekaligus.
c.       Menjual cenderamata
Penjualan cenderamata merupakan peluang bagi penggalangan dana. Dapat diterapkan pada saat penerimaan mahasiswa baru, kegiatan lomba, konser amal, yang mengumpulkan banyak massa dalam suatu tempat.
d.      Mengadakan kampanye sumbangan besar
Kampanye besar-besaran ditujukan untuk meminta sumbangan kepada donatur-donatur. Acara kampanye dapat diluncurkan dalam kegiatan malam amal, kegiatan training dan pelatihan, bedah buku, tabligh akbar, dan lain sebagainya.

2.      PERLUASAN DAN PENGEMBANGAN
      Kewirausahaan perlu menyiapkan sebuah rencana usaha untuk perluasan dan pengembangan di tahun berikutnya. Ingatlah, menggalang dana selalu memakan waktu lebih banyak daripada yang diperkirakan. Semakin awal Anda membuat rencana, semakin berhasil Anda dalam mendapatkan sumber daya ketika dibutuhkan.


3.      SUMBER DAYA
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan sumber daya yang tersedia untuk memudahkan dalam penggalangan dana sebagai berikut:
-          Sumber daya manusia (pengurus) untuk merancang kegiatan dan melaksanakannya.
-          Keahlian dan pengalaman yang akan diperlukan pengurus
-          Kemampuan memberi layanan pada permintaan dari konsumen atau orang luar
-          Kontak dengan orang-orang terkemuka atau kepribadian menarik yang mungkin diperlukan jika menginginkan keberhasilan (sponsor dari perusahaan).
-          Pendukung yang penuh perhatian dan mau melibatkan diri (dewan penasihat, ketua organisasi, kabid keuangan BKMI).
-          Kepercayaan yang besar dari pihak luar kepada LDF sehingga orang dengan sendirinya mau bekerja sama dengan LDF Anda.
-          Waktu cukup tersedia untuk membuat rencana penggalangan dana.

      Dalam me-list mitra yang akan LDK ajukan untuk bekerja sama, LDK bisa memilahnya berdasar 3 Komponen. Pertama, mitra yang memiliki hubungan ideologis. Kedua, mitra yang memiliki hubungan segmentasi objek kegiatan. Dan yang ketiga, mitra yang memiliki hubungan dengan jenis kegiatan.

4.      PRINSIP-PRINSIP DALAM PENGGALANGAN DANA
a.      Selalu hemat
b.      Biaya selalu lebih kecil dari penghasilan
c.       Hindari risiko

5.      PARAMETER SUKSES PENGGALANGAN DANA
            Berikut ini beberapa cara mengukur sukses penggalangan dana:
a.       Rasio penggalangan dana
Rasio antara dana yang terhimpun dengan biaya penghimpunannya. Usahakan rasionya mencapai 3:2 minimal.
b.      Pemasukan bersih
Pemasukan bersih adalah jumlah yang sebenarnya diperoleh setelah dikurangi semua biaya. Ini adalah jumlah uang yang dapat digunakan oleh LDF karena merupakan laba dari usaha yang dilakukan.
c.       Tingkat respons
Persentase dari jumlah orang yang dihubungi dan memberikan sumbangan. Semakin tinggi tingkat respons,  semakin besar jumlah pendukung yang berhasil dihimpun.
d.      Sumbangan rata-rata
Jumlah rata-rata yang diberikan setiap penymbang. Jumlah total yang dihasilkan tergantung pada tingkat jawaban dan sumbangan rata-rata.
F.     SIFAT-SIFAT WIRAUSAHA
            Dari berbagai penelitian yang ada ditemukan sembilan belas sifat penting wirausaha yang diperoleh dari tujuh penelitian yang pernah dilakukan. Kesembilan belas sifat itu dikelompokkan menjadi enam sifat unggul (research methodology workshop, 1977), sebagai berikut.
(1) Percaya diri; (2) Originalitas; (3) Berorientasi manusia; (4)Berorientasi hasil kerja; (5)Berorientasi masa depan; (6) Berani ambil risiko.

Kita akan membahas satu per satu dari keenam sifat tersebut:

1.      Percaya Diri, seorang entrepreneur haruslah memiliki sifat percaya diri yang tercermin dari:
a.       Yakin dan optimisme: ia harus yakin dan optimis bahwa usahanya akan maju dan berkembang. Untuk itu seorang wirausaha harus mampu menyusun rencana keberhasilan perusahaannya.
b.      Mandiri: Tidak mengandalkan dan bergantung orang lain atau keluarga.
c.       Kepemimpinan dan dinamis: Seorang wirausaha harus mampu bertanggung jawab terhadap segala aktivitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggung jawab seorang pengusaha tidak hanya pada material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.
2.      Originalitas: seorang entrepreneur haruslah memiliki sifat orginalitas yang tercermin dari:
a.       Kreatif: mampu mengembangkan ide-ide baru dan menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan
b.      Inovatif: mampu melakukan sesuatu yang baru yang belum dilakukan banyak orang sebagai nilai tambah keungulan bersaing.
c.       Inisiatif/proaktif, mampu  mengerjakan banyak hal dengan baik, dan memiliki pengetahuan. Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar dimana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetap terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.
3.      Berorientasi Manusia, terdiri dari:
                         a.      Sifat suka bergaul dengan orang lain berarti anda harus mampu mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dijalankan antara lain kepada para pelanggan, pemerintah pemasok, serta masyarakat luas.
                        b.      Komitmen. Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus dipegang teguh dan harus ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban untuk segera ditepati dan direalisasikan.
                         c.      Responsif terhadap saran/kritik. Menganggap saran dan kritik adalah dasar untuk mencapai kemajuan. Saran dan kritik yang masuk di respon dengan baik untuk memperbaiki pelayanan kepada pelanggan, proses bisnis dan efesiensi perusahaan.
4.      Berorientasi Hasil Kerja, terdiri dari sifat:
                         a.      Ingin berprestasi, kemauan untuk terus maju dan mengembangkan usaha. IQ dan EQ tidak cukup untuk memprediksi keberhasilan. Dibutuhkan AQ (Adversity quotient) yaitu tingkat ketahanan terhadap hambatan-hambatan yang ditemuinya dalam mencapai keberhasilan. Dalam AQ ada tiga tipe pendaki puncak keberhasilan, yaitu quitter, champer, dan climber. Tipe quitter adalah mereka yang langsung menyerah atau tidak mau memanfaatkan peluang. Tipe champer adalah mereka yang cepat puas dengan apa yang sudah dicapai walaupun bisa mencapai keberhasilan yang lebih tinggi kalau mereka mau. Tipe climber adalah orang yang terus mendaki tangga keberhasilan hingga mencapai puncak tertinggi meski menemui berbagai hambatan atau rintangan. Ketahanan terhadap berbagai hambatan ini terdiri dari empat komponen, yaitu reach, ownership & original,control, endurance. Reach berarti seberapa jauh kemalangan/rintangan yang ditemui itu mempengaruhi hal-hal lain dalam kehidupan. Ownership & original adalah persepsi orang terhadap rintangan/hambatan. Control berarti melihat kemampuan mengontrol hambatan/rintangan dalam kehidupan. Endurance berarti sejauh mana kita melihat rintangan/hambatan sebagai sesuatu yang terus terjadi atau hanya terjadi secara kebetulan, cepat berlalu dan tidak akan terjadi lagi.
                        b.      Berorientasi keuntungan, semua cara dan usaha yang dilakukan harus mendatangkan profit, karena bisnis tidak akan bisa bertahan dan berkembang jika tidak ada profit
                         c.      Teguh, tekun, dan kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ ia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide- ide baru selalu mendorongnya untuk bekerja keras merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.
                        d.      Penuh semangat, dan penuh energi. Melakukan semua aktivitas dengan semangat untuk keberhasilan.
5.      Berorientasi masa depan: terdiri dari sifat pandangan ke depan, ketajaman persepsi. Untuk itu Anda harus memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui apa yang akan dilakukan oleh pengusaha tersebut beorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktivitas usaha yang dijalankan selalu dievalusi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.
6.       Berani ambil risiko: terdiri dari sifat mampu ambil risiko, suka tantangan. Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapan pun dan di mana pun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.
            Penelitian Mc Ber & Co di Amerika Serikat pada usaha kecil (dalam Zimmerer & Scarborough, 1998) menemukan sembilan ciri wirausaha yang berhasil, yang dibagi ke dalam tiga kategori, sebagai berikut:
1.      bersifat proaktif, yaitu inisiatif yang tinggi dan asertif;
2.      orientasi prestasi, yaitu melihat kesempatan dan bertindak langsung, orientasi efisiensi, menekankan pekerjaan dengan kualitas tinggi, perencanaan yang sistematis, monitoring;
3.      komitmen dengan pihak lain, yaitu komitmen yang tinggi pada pekerjaan, dan menyadari pentingnya hubungan bisnis yang mendasar.
            Sukardi(1991) membuat kesimpulan tentang sembilan sifat yang ada pada wirausaha sebagai berikut:
1.      Sifat instrumental, yaitu tanggap terhadap peluang dan kesempatan berusaha maupun yang berkaitan dengan perbaikan kerja.
2.      Sifat prestatif, yaitu selalu berusaha memperbaiki prestasi, mempergunakan umpan balik, menyenangi tantangan dan berupaya agar hasil kerjanya selalu lebih baik dari sebelumnya.
3.      Sifat keleluasan bergaul, yaitu selalu aktif bergaul dengan siapa saja, membina kenalan-kenalan baru dan berusaha menyesuaikan diri dalam berbagai situasi.
4.      Sifat kerja keras, yaitu berusaha selalu terlibat dalam situasi kerja, tidak mudah menyerah sebelum pekerjaan selesai. Tidak pernah memberi dirinya kesempatan untuk berpangku tangan, mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan, dan memiliki tenaga untuk terlibat terus-menerus dalam kerja.
5.      Sifat keyakinan diri, adalah dalam segala kegiatannya penuh optimisme bahwa usahanya akan berhasil. Dia percaya diri bergairah langsung terlibat dalam kegiatan konkret,jarang terlihat ragu-ragu.
6.      Sifat pengambilan risiko yang diperhitungkan, yaitu tidak khawatir akan menghadapi situasi yang serba tidak pasti di mana usahanya belum tentu membuahkan keberhasilan.
7.      Sifat swa-kendali, yaitu benar-benar menentukan apa yang harus dilakukan dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
8.      Sifat inovatif, yaitu selalu bekerja keras mencari cara-cara baru untuk memperbaiki kinerjanya. Terbuka untuk gagasan,pandangan, penemuan-penemuan baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerjanya.
9.      Sifat mandiri, yaitu apa yang dilakukan merupakan tanggung jawab pribadi.


G.    CARA BERDAGANG RASULULLAH
Lebih dari 14 abad silam, Muhammad saw sebelum mencapai jenjang kerasulannya, telah dikenal sebagai pebisnis muda yang disegani. Untuk sampai pada tataran itu, bukan jalan mudah. Seperti yang kebanyakan dikeluhkan para pengusaha, Muhammad saw pun tidak memiliki cukup modal. Jangankan modal, dirinya pun hanya hidup sederhana menumpang di rumah pamannya, Abu Thalib ra, yang papa.
Rasulullah SAW adalah seorang pebisnis dan pedagang yang handal. Visi beliau dalam berdagang hanya satu, yaitu:
“Bahwa transaksi bisnis sama sekali tidak ditujukan untuk memupuk kekayaan pribadi, namun justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnis dengan etika yg tinggi. Adapun hasil yang didapat harus didistribusikan ke sebanyak mungkin umat.”
Prinsip yang beliau pegang cukup 3 hal saja, yaitu:
  1. Jujur
  2. Saling menguntungkan kedua pihak
  3. Hanya menjual produk yang bermutu tinggi
Tiga prinsip di atas menjiwai cara bisnis beliau. Berikut adalah teladan beliau sebagai seorang pedagang/penjual:
  1. Tidak boleh berbohong dan menipu pembeli mengenai barang yang dijual
  2. Carilah keuntungan yang wajar. Jika pembeli bertanya, sebutkan harga modalnya
  3. Kepada para pelanggan yang tidak mampu membayar kontan (tunai), berikanlah waktu untuk melunasinya. Bila dia betul-betul tidak mampu membayar setelah masa tenggat pengunduran itu, padahal dia telah berusaha, maka ikhlaskanlah
  4. Hindari sumpah yang berlebihan, apalagi sumpah palsu untuk mengelabui konsumen
  5. Lakukan transaksi jika telah ada kata sepakat antara penjual dan pembeli
  6. Lakukan penimbangan dan penakaran dengan benar dan setepat mungkin
  7. Camkan pada pembeli bahwa yang membayar di muka bahwa ia tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut benar-benar menjadi miliknya (terbayar lunas terlebih dahulu)
  8. Jangan melakukan transaksi monopoli dalam perdagangan, berikan kesempatan yang lain untuk berdagang juga.
Prinsip Nabi, pedagang yang tak jujur, meskipun sesaat mendapatkan keuntungan banyak, tapi pelan tapi pasti akan gagal dalam menggeluti profesinya. Karena itu, dia selalu menasehati sahabat-sahabatnya untuk melakukan hal serupa. Apalagi saat Nabi memimpin ummat di Madinah. Praktek-praktek perdagangan yang mengandung unsur penipuan, riba, judi, ketidakpastian dan meragukan, eksploitasi, pengambilan untung yang berlebihan dan pasar gelap belia larang. Nabi juga memelopori standardisasi timbangan dan ukuran.
Nabi sangat konsen dengan kejujuran. Sampai-sampai, orang yang jujur dalam berdagang, digaransinya masuk dalam golongan para nabi. Abu Sa'id meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, "Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada."
1.      SIKAP BAIK DALAM BERDAGANG
Dalam urusan dagang, nabi selalu bersikap sopan dan baik hati. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, "Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli, dan ketika dia membuat keputusan." (HR Bukhari).

Nabi juga menghindari sikap belebihan dalam berdagang, seperti banyak bersumpah. Tentang hal ini, nasehat Rasulullah, "Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi dagang, sebab itu dapat menghasilkan penjualan yang cepat, lalu menghapuskan berkah."

Nabi sangat membenci orang-orang yang dalam dagangnya menggunakan sumpah palsu. Beliau mengatakan, pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan berbicara, melihatpun tidak kepada orang yang semasa hidup berdagang dengan menggunakan sumpah palsu.

2.      HAK-HAK KELOMPOK DALAM TRANSAKSI

Dalam proses pertukaran barang dengan persetujuan antara kedua belah pihak, seringkali ada konflik. Untuk menghindari ini, Nabi telah meletakkan dasar, bagaimana transaksi seharusnya terjadi. Ibnu 'Umar meriwaytakan dari Rasulullah, "Kedua kelompok di dalam transaksi perdagangan memiliki hak untuk membatalkannya hanya sejauh mereka belum berpisah, keculai transasksi itu menyulitkan kelompok itu untuk membatalkannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain disebutkan, "Kedua belah pihak dalam transaksi perdagangan berhak membatalkan, selama mereka tidak berpisah. Jika mereka berkata benar, menjelaskan sesuatunya dengan jernih, maka transaksi mereka akan mendapatkan berkah. Tapi jika menyembunyikan sesuatu serta berdusta, maka berkah yang ada dalam transaksi mereka akan terhapus." (Bukhari dan Muslim).
-          Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dilakukan penjualan, katakanlah: tidak ada penipuan.”
-          Rasulullah SAW bersabda, “Kedua belah pihak dalam transaksi perdagangan berhak membatalkan, selama mereka tidak berpisah. Jika mereka berkata benar, menjelaskan sesuatunya dengan jernih, maka transaksi mereka akan mendapatkan berkah. Tapi jika menyembunyikan sesuatu serta berdusta, maka berkah yang ada dalam transaksi mereka akan terhapus.” (Bukhari dan Muslim)
-          Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkata, “Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli, dan ketika dia membuat keputusan.” (HR Bukhari)

Sebagai Epilog, saya ingin melampirkan puisi tentang pengusaha
Karena Aku Seorang  Pengusaha…
Ketika orang lain baru mulai bekerja, aku sudah menyelesaikan ¼ dari pekerjaanku hari itu. Tetapi ketika orang lain selesai dengan pekerjaannya, aku baru menyelesaikan ¾ dari pekerjaanku.
Aku bekerja 2 kali lebih banyak dari yang dilakukan orang lain, bukan karena ada yang  menyuruh aku melakukannya. Bukan pula karena aku harus melakukannya, tetapi karena aku memang senang melakukannya.
Ketika akhir bulan tiba, orang-orang lain yang bekerja umumnya gembira menerima upah dari pekerjaannya. Akupun gembira, tetapi bukan karena menerima upah dari pekerjaanku – karena aku masih mampu membayar upah para bekerja.
Ketika segala sesuatunya tidak berjalan semestinya, orang lain bisa menyalahkan atasannya, bisa menyalahkan system, bisa menyalahkan pasar, bisa menyalahkan krisis dan bahkan bisa menyalahkan cuaca. Tidak demikian denganku, the buck stops here – nobody else to blame, semua masalah menjadi tanggung jawabku – tidak ada orang lain yang patut disalahkan.
Ketika orang lain melihat masalah di sekitar mereka, aku melihatnya peluang untuk diatasi. Ketika orang lain melihat sampah, aku melihatnya bahan baku untuk industri.
Ketika orang lain sibuk untuk menabung kelebihan uang mereka, aku juga selalu sibuk untuk mencari solusi bagaimana mendanai berbagai ide usaha. Orang lain mendapat bagi hasil yang pasti, tidak demikian dengan dana usahaku – tidak ada yang bisa memberikan jaminan yang pasti.
Di akhir pekan, di hari liburan – orang lain bisa sepenuhnya istirahat dengan melupakan segala persoalan pekerjaannya. Tidak demikian denganku, tidak ada waktu untuk berlibur dari tanggung jawab – aku harus tetap siaga dimanapun aku berada.
Ketika orang lain berlibur adalah berlibur - tidak ada yang boleh mengganggunya, kadang aku-pun ber –‘libur’ tetapi bukan untuk berlibur – aku mencari peluang dengannya.
Di akhir malam, ketika orang lain berdoa untuk mendapatkan pekerjaan, jabatan yang baik dan karir yang cemerlang nanti. Akupun berdoa untuk mampu menjaga amanah, untuk diberi dan dipertemukan dengan orang-orang yang jujur – adil – dan hati-hati agar tidak ada rasa bimbang di hati.
Orang lain akan pensiun pada waktunya, menikmati hari tua dengan dana pensiunnya atau dengan tunjangan hari tuanya. Tidak denganku, usia tidak menghalangiku untuk tetap bekerja, dana pensiun dan tunjangan hari tua-ku telah habis ketika aku membutuhkan modal usaha.
Ketika istri-istri orang lain sibuk mengelola penghasilan para suami mereka, istriku-pun sibuk – bukan untuk mengelola penghasilanku, tetapi untuk ikut berusaha dan menjaga agar orang lain tetap bisa bekerja.
Ketika anak-anak orang lain mendapatkan jatah uang saku bulanannya, anak-anakku harus bekerja untuk memperoleh uang sakunya. Bagi anak-anakku, uang saku bukan something to be given (sesuatu yang harus diberikan) kepada mereka, tetapi something to be earned (sesuatu yang harus diusahakan) oleh mereka.
Satu demi satu usaha terus aku rintis, bukan karena aku ingin terus bertambah kaya – karena memang ternyata tidak semuanya berbuah hasil. Tetapi karena aku memang senang melakukannya, untuk tetap bisa berbuat adil.
Aku tahu domainku hanya untuk berusaha dan bekerja dengan senang, masalah hasil adalah domain dan kuasa dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku hanyalah pelaku, Dia-lah Sang Penentu.
Karenanya, tidak patut aku berbangga dengan hasil usaha, tetapi syukurku yang terus aku panjatkan atas kesempatan yang telah diberikanNya kepadaku  untuk tetap bisa berusaha. Karena aku seorang pengusaha, tugasku hanya berusaha
DAFTAR PUSTAKA
Atian, Ahmad. 2010. Menuju Kemenangan Dakwah kampus, Panduan Bagi Aktivis Dakwah Kampus. Solo: Era Adicitra Intermedia.
FSLDK, GAMAIS ITB. 2010. Risalah Manajemen Dakwah Kampus, edisi revisi. Bandung: Tim Penyusun SPMN FSLDK Nasional.
Buku Pengantar Kewirausahaan.
Entrepreneur & entrepreneurship Group

Tidak ada komentar:

Posting Komentar