Sebuah
pengabdian dari seorang hamba yang hina kepada Sang Khalik, tak mampu berjihad
di medan perang, jihad dengan “cara lain” di medan dakwah pun tetap pengabdian.
Dengan memantapkan tujuan dan niat hanya karena Allah semata,
kupersembahkan
karya ini untuk generasi jundullah di medan dakwah.
Oleh: Nopitasari (I11109065)
Kadiv Kewirausahaan FKMI IBNU SINA periode 2011/2012
BismillahirrahmaAnirrahim
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati
Allah dan Rasulnya (Muhammad) dan janganlah kamu menghianati amanah-amanh yang
dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui” (QS. Al-Anfal :23)
Segala puji hanya pantas dan berhak kita haturkan kepada
Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan hidayah-Nya kepada kita sehingga
kita dapat menjalankan amanah yang telah diberikan kepada kita. Shalawat serta
salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat
dan pengikutnya yang tetap istiqomah berjihad di
jalan dakwah hingga akhir zaman.
PENDAHULUAN
“Setiap
masa mengalami cara tersendiri dalam menulis, sejalan dengan cara penduduk masa
tersebut dalam memahami dan mempelajari sesuatu. Karenanya, harus ada pembaruan
sejalan dengan kemajuan akal manusia dan perubahan metode riset, berpikir, dan
mengambil kesimpulan. Untuk menjawab perubahan dan kemajuan tersebut tidak cukup
hanya dengan kata-kata yang keluar secara refleks, atau ceramah yang
membangkitkan perasaan, atau kata-kata yang dapat mengobarkan emosi. Akan
tetapi, para aktivis dakwah berkewajiban memberikan gambaran kepada manusia
dengan gambaran yang logis, cermat, dan jelas; yang dibangun di atas
kaidah-kaidah riset ilmiah; dan membeberkan kepada manusia cara-cara yang
aplikatif dan produktif yang telah mereka persiapkan untuk mewujudkan apa yang
diinginkan; dan agar dapat mengatasi tantangan yang akan mereka hadapi, maka
hal-hal di atas harus ada dalam perjalanan dakwah. (Risalah da’watuna fi Thaurin Jadid, Hasan Al Banna).
Da’wah berasal dari kata da’a, yad’u yang berarti panggilan,
ajakan, dan seruan. Sedangkan da’awa merupakan
unsur yang bermakna mengajak, meminta, memanggil, dan menyeru. Sesungguhnya,
yang perlu kita pahami tentang esensi dakwah adalah bahwa sesungguhnya dakwah
merupakan sebuah aktivitas dan upaya untuk mengubah manusia baik individu
maupun kolektif dari situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik.
Situasi yang lebih baik yang dimaksud dalam keberislaman setelah kejahilan, kesyukuran
setelah kekufuran, kesadaran setelah kelupaan, dan kesempurnaan setelah
kekurangan.
Dakwah merupakan sesuatu yang menjadi tuntutan dari keberislaman
kita. Islam yang kita anut tidak dapat dipisahkan dari kewajiban untuk
menyebarkannya, baik dengan perbuatan, lisan, tulisan, maupun dengan hati. Di
manapun kita berdiri kini, di bumi manapun Allah memberikan napas kehidupan
bagi kita kini, bagaimanapun keadaannya, seperti dan jadi apapun kita, peran
dakwah adalah peran yang paling urgen dalam kehidupan kita. Dakwah dalam Islam
dilaksanakan pada setiap zaman, dikerjakan di setiap tempat, dilaksanakan dalam
kondisi apapun, pada setiap waktu dan oleh setiap generasi. Dari zaman Rasul
sampai kita hari ini. “Akan selalu ada dari umat ini, segolongan umat yang akan
senantiasa menegakkan urusan (dakwah Islam) ini. Orang-orang yang mendustakan
mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka. Demikian pula halnya
orang-orang yang memusuhi mereka. Demikianlah keadaannya sampai datangnya
urusan Allah dan mereka meraih kemenangan atas manusia.” (HR. Bukhari Muslim)
Dakwah Islam dilaksanakan di
setiap tempat, tidak terkecuali di kampus sekalipun. Dakwah kampus merupakan
salah satu dari skup kecil wilayah perjuangan dakwah. Dakwah kampus dijalankan
dari kampus, oleh civitas akademika (kalangan kampus), demi manfaat untuk
kampus sampai masyarakat global. Tujuan dakwah kampus adalah membentuk civitas
akademika yang bercirikan intelektualitas dan profesionalitas, memiliki
komitmen yang kokoh terhadap Islam, dan mengoptimalkan peran kampus dalam upaya
mencapai kebangkitan Islam.
Ciri khas dari gerakan
dakwah ideal adalah gerakannya akan senantiasa diawali oleh perbaikan hati lalu
bergerak menuju perjuangan menegakkan syariat dalam kehidupan. Motor
penggeraknya adalah kaum muda yang memiliki semangat yang membara. Cita-cita mereka
adalah kemenangan umat dan kekuasaan Islam, tetapi cita-cita itu tidak berhenti
di situ. Cita-cita itu hidup karena dihidupkan oleh hati yang hidup.
A. MENGAPA KEUANGAN DAN
KEWIRAUSAHAAN PENTING???
Setiap manusia ingin merasakan
kenyamanan dalam kehidupannya. Setiap insan ingin agar kehidupannya mudah dan
dipermudah. Setiap manusia tidak menginginkan perjumpaan dengan kesukaran,
penderitaan, kemalangan, kehinaan, dan kawan-kawannya. Setiap manusia ingin
merasakan kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kenyamanan, dan keadaan baik
lainnya. Namun, kenyataan hidup menunjukkan hukum perbandingan, memenuhi hukum
pertentangan, dan mengikuti hukum perbedaan. Ada senang, ada duka; ada mudah,
ada sukar; ada menang, ada kalah, dan ada miskin, ada kaya.
Kaya adalah sebuah harapan.
Dia adalah cita-cita. Setiap orang pada dasarnya ingin kaya. Persoalannya,
bagaimana kita mencapai derajat kekayaan itu dan derajat kekayaan seperti apa
yang mesti kita capai. Idealnya setiap muslim harus kaya. Kaya di sini bukanlah
diartikan hanya sebatas pada harta benda, karena kekayaan tidak terbatas di
situ. Kekayaan terlalu luas untuk hanya diartikan sebagai keberlimpahan harta.
Terlalu sempit andaikata kita mengatakan bahwa kekayaan hanya materi semata.
Setiap kekayaan yang
dimiliki harus sepenuhnya mampu memberikan kontribusi bagi dakwah yang kita
jalankan. Dakwah kampus sebagai
ladangnya dakwah para civitas akademika juga perlu kaya. Baik itu kekayaan
materi, maupun kekayaan spiritual. Dakwah kampus harus mengikuti hukum
kekayaan. Dakwah kampus harus kaya dalam
ide, visi, gagasan, dan cita-cita. Dakwah kampus harus menjadi gerakan yang
kaya akan inovasi dan kreativitas. Dakwah kampus juga mesti kaya dalam wawasan
dan keilmuan. Dakwah kampus harus kaya sebab kemenangan membutuhkan harga mati.
Hanya yang kaya yang dapat menang. Dengan kekayaan kemenangan akan diraih.
Kekayaan mencerminkan kemampuan, kepantasan, dan kekuatan.
Tak kalah pentingnya, dakwah
kampus juga harus menjadi gerakan yang kaya finansial, kaya dalam hal materi.
Betapa banyak gerakan bermunculan, tetapi tidak berapa lama kemudian hilang
ditenggelamkan keadaan, ditinggalkan zaman, ataupun dilupakan semesta. Salah
satunya adalah karena ketidakkayaan mereka secara finansial.
Agar dapat memperkaya diri,
dakwah kampus memerlukan dapur perusahaan. Dakwah kampus perlu mempunyai bidang
yang mengurusi masalah finansial. Dakwah kampus perlu mempunyai unit-unit usaha
mandiri dan syar’i, berjalan sebagai penerapan ekonomi Islam. Perlu adanya
rekayasa dan perwujudan rekayasa finansial melalui berbagai program dan
perusahaan sederhana dan permanen. Perlu adanya kerjasama usaha dengan elemen
masyarakat lainnya agar gerakan dakwah tidak hanya mengandalkan hibah donatur
dan proposal.
B. MENGAPA
MENGGALANG DANA ITU PENTING???
Salah satu hal yang harus disadari oleh LDF adalah bahwa kebutuhan akan
dana adalah hal yang sangat vital dan tidak dapat dipandang remeh. Memang untuk
berdakwah tak selalu memerlukan dana, akan tetapi kita sudah faham bahwa tanpa
dana yang cukup “acara-acara” dakwah kita tidak berjalan secara optimal.
Sebagai lembaga dakwah yang mengusung nama kampus di dalamnya, akan sangat naïf
kalau kemudian terlihat ‘tidak cerdas’ dalam mengumpulkan dan meng’create’
dana. Menggalang dana adalah unsur yang sangat penting karena menentukan
berhasil tidaknya organisasi lembaga dakwah fakultas. Sebab-sebabnya antara
lain:
Bertahan
hidup
Semua
organisasi perlu uang agar dapat bertahan hidup. Daftar kebutuhan panjang
sekali. Dan jika uang tidak dihimpun, lembaga dakwah fakultas tidak akan dapat
melakukan kegiatan. Dan jika kegiatan tidak dapat dilakukan, maka semua program
dakwah yang telah direncanakan tidak dapat berjalan.
KWU
dapat menggunakan anggaran tahunan LDF sebagai alat untuk mengelola
penggalangan dana. Anggaran tahunan menunjukkan jumlah uang yang LDF rencanakan
untuk dibelanjakan dan juga menunjukkan jumlah uang yang sudah terhimpun, dan
berapa besar dana tambahan yang masih perlu dicari selama tahun anggaran agar
KWU dapat membiayai semua pengeluaran LDF.
Seorang
bendahara juga harus memantau kemajuan yang dicapai dalam menggalang dana
dengan cara mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan cermat, dan dengan cara
menyiapkan laporan keuangan dan membahasnya secara berkala dengan pimpinan
organisasi (bisa sebulan sekali, atau tiga bulan sekali). Jika dana yang
terhimpun lebih keicl dari rencana, maka KWU harus mengambil langkah-langkah
tertentu misalnya menjalankan upaya-upaya yang lebih besar untuk menggalang
dana, menghemat pengeluaran, menunda proyek atau pelaksanaan program kerja,
atau membiayai defisit dari dana cadangan.
Sebagian uang yang masuk ke
dalam kas kita haruslah diatur agar
berkembang produktif. Dengan produksi yang melimpah, dakwah kampus diharapkan
dapat mendistribusikan kebaikan dan manfaat kepada sesama. Dengan kekayaan
harta yang melimpah, diharapkan pula dakwah kampus dapat memberikan bantuan
pendanaan kepada sesama (personel gerakan ataupun bukan). Dapat berupa
beasiswa, bantuan kemanusiaan, pendanaan bakti sosial, bahkan dana untuk kerja
lembaga dakwah itu sendiri, seperti biaya administrasi, biaya agenda kajian,
percetakan buletin, biaya perayaan hari raya kurban, dan lain-lain. Maka dari
itu, suatu bidang yang mengurusi keuangan ini sangat dibutuhkan dan merupakan
bidang penting yang harus ada dalam dakwah kampus.
C. KEWIRAUSAHAAN LEMBAGA DAKWAH
FAKULTAS
Pendanaan
pada LDF merupakan sebuah komponen penting dalam menjalankan roda dakwah. Pada
bagian ini menjelaskan tentang anggaran pendanaan, sumber keuangan lembaga dan
pengelolaan dana kepengurusan.
1. VISI
DAN MISI
VISI: Keuangan
sebagai sumber dana mandiri dakwah kampus yang berbasis ekonomi syariah untuk
mewujudkan masyarakat madani.
MISI:
-
Harmonisasi dan sinergisitas program
kerja lembaga dakwah antara BKMI dan LDF
-
Membangun LDK mandiri
-
Membangun masyarakat madani berbasis ekonomi
syariah
2. ANALISI
SWOT
Analisis SWOT (strength-weakness-opportunity-threat)
mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pada organisasi dan
kegiatan menggalang dana. Dengan melakukan SWOT, Anda dapat:
-
Mengembangkan metode-metode penggalangan
dana yang dibangun di atas kekuatan Anda.
-
Menghindari kelemahan-kelemahan atau
mencari cara untuk mengimbangi kelemahan-kelemahan itu.
-
Meraih peluang-peluang yang terbuka.
-
Mengembangkan cara-cara untuk mengatasi
ancaman-ancaman yang muncul.
a. STRENGTH
-
Mendapatkan dana
budget dari fakultas
-
Ide-ide untuk
usaha kreatif
-
Adanya kerjasama
dengan forum keuangan se-UNTAN
b. WEAKNESS
-
Kebutuhan dana
untuk aktifitas lembaga lebih besar dari pemasukan
-
Belum memiliki
badan usaha yang permanen
-
Padatnya jadwal
tiap prodi
c. OPPORTUNITY
-
Masyarakat FKIK
yang semakin ramai
-
Masyarakat FKIK
yang konsumtif
-
Adanya peluang
untuk membangun jaringan dari pihak luar
d. THREATH
-
Kurangnya
partisipasi dan semangat dari anggota
-
Ketidakteraturan
jadwal tiap prodi
3. TARGET
1) Internal
-
Peningkatan
sistem keuangan yang professional
-
Dapat
mengembangkan jiwa dan skill kewirausahaan
Menghasilkan laba sebesar Rp. 10.000.000,- selama satu
periode
2) Eksternal
-
Dapat memberikan
citra positif lembaga
-
Terbangun
jaringan dengan lembaga lainnya dalam hal kewirausahaan
4.
BUSINESS PLAN
Usulan beberapa Bussiness
Plan yang cukup realistis (kondisional) dijalankan:
1. Voucher
pulsa elektronik
2. Penjualan
alat tulis dan DHK
3. Jasa
print
4. Kantin
jujur
5. Bazar
makanan dan minuman
6. Penjualan
buku dan alat kesehatan
7. Pemesanan
kue seperti risoles, kek bolu, dan lain-lain
8. Penjualan
pakaian dan aksesoris wanita
9. Penjualan
souvenir berupa pin, gantungan kunci, boneka, tempat pensil, tempat hp, mug,
stiker, dan lain-lain.
D. KOLABORASI
Berkolaborasi adalah bekerja sama
dengan badan atau lembaga lain yang sejenis maupun tidak sejenis untuk mencapai
tujuan bersama. Kolaborasi dilakukan agar visi dan misi organisasi bisa dicapai
dan organisasi bisa berkembang. Syarat keberhasilannya hanyalah kejujuran,
transparansi, konsistensi, saling percaya.
E. FUNDRAISING
Fundraising disebut juga
penggalangan dana. Kegiatan dakwah kampus merupakan organisasi non-profit yang
tak jauh dari penggalangan dana. Tujuannya bisa dua, yaitu untuk disalurkan
keluar seperti santunan kepada yatim piatu, penggalangan dana untuk korban
gempa, banjir, dan sebagainya; dan dana untuk operasional dakwah kampus. Pada
saat penggalangan dana, pengurus organisasi dakwah kampus harus banyak
melakukan kontak keluar untuk mempublikasikan kegiatan supaya tujuan kegiatan
ini tercapai, yaitu mengumpulkan dana yang cukup atau berlebih untuk mencapai
tujuan tersebut.
Untuk menggalang dana secara efektif
dibutuhkan jam kerja yang panjang, kerja keras, kemampuan berkomunikasi, dan
pengetahuan yang cukup mendalam mengenai berbagai teknik yang dapat digunakan
untuk menghimpun dana, dan semua ini didukung oleh bagian kewirausahaan yang efektif
dan cekatan.
Satu hal yang penting dan turut
menentukan efektivitas dan dampak dari sebuah program dakwah kampus adalah
tersedianya dana dan segala pendukung yang diperlukan. Seringkali terjadi
program yang kuat, tetapi tidak dapat dilaksanakan secara optimal karena
keterbatasan dana, sehingga hasilnya kurang signifikan atau berhenti di tengah
jalan. Sebuah perencanaan yang matang harus dipikirkan jauh hari seiring dengan
rancangan pengembangan program dalam sebuah lembaga dakwah fakultas.
1. BENTUK
KEGIATAN PENGGALANGAN DANA
Penggalangan
dana juga mempertimbangkan berbagai kegiatan untuk menggalang dana.
a.
Meminta sumbangan via media
Meminta
sumbagan dapat dilakukan melalui sms atau jejaring sosial, misalnya
penggalangan dana untuk orang-orang yang terkena musibah, bencana alam,
kematian, dan lain-lain.
b.
Menggalang dana melalui hubungan sosial
Acara-acara
bakti sosial ataupun jalan sehat dapat dijadikan kegiatan penggalangan dana
karena di situ terkumpul banyak massa sehingga akan dengan mudah menjual
produk-produk ataupun mengedarkan kotak amal sekaligus.
c.
Menjual cenderamata
Penjualan
cenderamata merupakan peluang bagi penggalangan dana. Dapat diterapkan pada
saat penerimaan mahasiswa baru, kegiatan lomba, konser amal, yang mengumpulkan
banyak massa dalam suatu tempat.
d.
Mengadakan kampanye sumbangan besar
Kampanye
besar-besaran ditujukan untuk meminta sumbangan kepada donatur-donatur. Acara
kampanye dapat diluncurkan dalam kegiatan malam amal, kegiatan training dan
pelatihan, bedah buku, tabligh akbar, dan lain sebagainya.
2. PERLUASAN
DAN PENGEMBANGAN
Kewirausahaan
perlu menyiapkan sebuah rencana usaha untuk perluasan dan pengembangan di tahun
berikutnya. Ingatlah, menggalang dana selalu memakan waktu lebih banyak
daripada yang diperkirakan. Semakin awal Anda membuat rencana, semakin berhasil
Anda dalam mendapatkan sumber daya ketika dibutuhkan.
3. SUMBER
DAYA
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menentukan sumber daya yang tersedia untuk memudahkan dalam penggalangan dana
sebagai berikut:
-
Sumber daya manusia (pengurus) untuk
merancang kegiatan dan melaksanakannya.
-
Keahlian dan pengalaman yang akan
diperlukan pengurus
-
Kemampuan memberi layanan pada permintaan
dari konsumen atau orang luar
-
Kontak dengan orang-orang terkemuka atau
kepribadian menarik yang mungkin diperlukan jika menginginkan keberhasilan
(sponsor dari perusahaan).
-
Pendukung yang penuh perhatian dan mau
melibatkan diri (dewan penasihat, ketua organisasi, kabid keuangan BKMI).
-
Kepercayaan yang besar dari pihak luar
kepada LDF sehingga orang dengan sendirinya mau bekerja sama dengan LDF Anda.
-
Waktu cukup tersedia untuk membuat
rencana penggalangan dana.
Dalam
me-list mitra yang akan LDK ajukan untuk bekerja sama, LDK bisa
memilahnya berdasar 3 Komponen. Pertama, mitra yang memiliki hubungan
ideologis. Kedua, mitra yang memiliki hubungan segmentasi objek kegiatan. Dan
yang ketiga, mitra yang memiliki hubungan dengan jenis kegiatan.
4. PRINSIP-PRINSIP
DALAM PENGGALANGAN DANA
a. Selalu
hemat
b. Biaya
selalu lebih kecil dari penghasilan
c. Hindari
risiko
5. PARAMETER
SUKSES PENGGALANGAN DANA
Berikut ini beberapa cara mengukur sukses penggalangan
dana:
a. Rasio
penggalangan dana
Rasio
antara dana yang terhimpun dengan biaya penghimpunannya. Usahakan rasionya
mencapai 3:2 minimal.
b. Pemasukan
bersih
Pemasukan
bersih adalah jumlah yang sebenarnya diperoleh setelah dikurangi semua biaya. Ini
adalah jumlah uang yang dapat digunakan oleh LDF karena merupakan laba dari
usaha yang dilakukan.
c. Tingkat
respons
Persentase
dari jumlah orang yang dihubungi dan memberikan sumbangan. Semakin tinggi
tingkat respons, semakin besar jumlah
pendukung yang berhasil dihimpun.
d. Sumbangan
rata-rata
Jumlah
rata-rata yang diberikan setiap penymbang. Jumlah total yang dihasilkan
tergantung pada tingkat jawaban dan sumbangan rata-rata.
F.
SIFAT-SIFAT WIRAUSAHA
Dari
berbagai penelitian yang ada ditemukan sembilan belas sifat penting wirausaha
yang diperoleh dari tujuh penelitian yang pernah dilakukan. Kesembilan belas
sifat itu dikelompokkan menjadi enam sifat unggul (research methodology
workshop, 1977), sebagai berikut.
(1) Percaya diri; (2) Originalitas;
(3) Berorientasi manusia; (4)Berorientasi hasil kerja; (5)Berorientasi masa
depan; (6) Berani ambil risiko.
Kita akan membahas satu per satu
dari keenam sifat tersebut:
1. Percaya
Diri, seorang entrepreneur haruslah memiliki sifat percaya diri yang tercermin
dari:
a.
Yakin dan optimisme: ia harus yakin dan
optimis bahwa usahanya akan maju dan berkembang. Untuk itu seorang wirausaha
harus mampu menyusun rencana keberhasilan perusahaannya.
b.
Mandiri: Tidak mengandalkan dan
bergantung orang lain atau keluarga.
c.
Kepemimpinan dan dinamis: Seorang
wirausaha harus mampu bertanggung jawab terhadap segala aktivitas yang
dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggung jawab seorang
pengusaha tidak hanya pada material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.
2. Originalitas:
seorang entrepreneur haruslah memiliki sifat orginalitas yang tercermin dari:
a.
Kreatif: mampu mengembangkan ide-ide
baru dan menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan
b.
Inovatif: mampu melakukan sesuatu yang
baru yang belum dilakukan banyak orang sebagai nilai tambah keungulan bersaing.
c.
Inisiatif/proaktif, mampu mengerjakan banyak hal dengan baik, dan
memiliki pengetahuan. Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri
mendasar dimana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetap terlebih
dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.
3. Berorientasi
Manusia, terdiri dari:
a.
Sifat suka bergaul dengan orang lain
berarti anda harus mampu mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan
berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan
maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dijalankan antara lain kepada para pelanggan,
pemerintah pemasok, serta masyarakat luas.
b.
Komitmen. Komitmen pada berbagai pihak
merupakan ciri yang harus dipegang teguh dan harus ditepati. Komitmen untuk
melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban untuk segera ditepati dan
direalisasikan.
c.
Responsif terhadap saran/kritik.
Menganggap saran dan kritik adalah dasar untuk mencapai kemajuan. Saran dan kritik
yang masuk di respon dengan baik untuk memperbaiki pelayanan kepada pelanggan,
proses bisnis dan efesiensi perusahaan.
4. Berorientasi
Hasil Kerja, terdiri dari sifat:
a.
Ingin berprestasi, kemauan untuk terus
maju dan mengembangkan usaha. IQ dan EQ tidak cukup untuk memprediksi
keberhasilan. Dibutuhkan AQ (Adversity quotient) yaitu tingkat ketahanan
terhadap hambatan-hambatan yang ditemuinya dalam mencapai keberhasilan. Dalam
AQ ada tiga tipe pendaki puncak keberhasilan, yaitu quitter, champer, dan
climber. Tipe quitter adalah mereka yang langsung menyerah atau tidak mau
memanfaatkan peluang. Tipe champer adalah mereka yang cepat puas dengan apa
yang sudah dicapai walaupun bisa mencapai keberhasilan yang lebih tinggi kalau
mereka mau. Tipe climber adalah orang yang terus mendaki tangga keberhasilan
hingga mencapai puncak tertinggi meski menemui berbagai hambatan atau
rintangan. Ketahanan terhadap berbagai hambatan ini terdiri dari empat komponen,
yaitu reach, ownership & original,control, endurance. Reach berarti
seberapa jauh kemalangan/rintangan yang ditemui itu mempengaruhi hal-hal lain
dalam kehidupan. Ownership & original adalah persepsi orang terhadap
rintangan/hambatan. Control berarti melihat kemampuan mengontrol
hambatan/rintangan dalam kehidupan. Endurance berarti sejauh mana kita
melihat rintangan/hambatan sebagai sesuatu yang terus terjadi atau hanya
terjadi secara kebetulan, cepat berlalu dan tidak akan terjadi lagi.
b.
Berorientasi keuntungan, semua cara dan
usaha yang dilakukan harus mendatangkan profit, karena bisnis tidak akan bisa
bertahan dan berkembang jika tidak ada profit
c.
Teguh, tekun, dan kerja keras. Jam kerja
pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ ia datang.
Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya
selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide- ide baru selalu mendorongnya untuk
bekerja keras merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah
yang tidak dapat diselesaikan.
d.
Penuh semangat, dan penuh energi.
Melakukan semua aktivitas dengan semangat untuk keberhasilan.
5. Berorientasi
masa depan: terdiri dari sifat pandangan ke depan, ketajaman persepsi. Untuk
itu Anda harus memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk
menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui apa yang
akan dilakukan oleh pengusaha tersebut beorientasi pada prestasi. Pengusaha
yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi
sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan
menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktivitas usaha yang dijalankan
selalu dievalusi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.
6. Berani ambil risiko: terdiri dari sifat mampu
ambil risiko, suka tantangan. Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang
harus dimiliki seorang pengusaha kapan pun dan di mana pun, baik dalam bentuk
uang maupun waktu.
Penelitian Mc Ber & Co di
Amerika Serikat pada usaha kecil (dalam Zimmerer & Scarborough, 1998)
menemukan sembilan ciri wirausaha yang berhasil, yang dibagi ke dalam tiga
kategori, sebagai berikut:
1. bersifat
proaktif, yaitu inisiatif yang tinggi dan asertif;
2. orientasi
prestasi, yaitu melihat kesempatan dan bertindak langsung, orientasi efisiensi,
menekankan pekerjaan dengan kualitas tinggi, perencanaan yang sistematis,
monitoring;
3. komitmen
dengan pihak lain, yaitu komitmen yang tinggi pada pekerjaan, dan menyadari
pentingnya hubungan bisnis yang mendasar.
Sukardi(1991)
membuat kesimpulan tentang sembilan sifat yang ada pada wirausaha sebagai
berikut:
1. Sifat
instrumental, yaitu tanggap terhadap peluang dan kesempatan berusaha maupun
yang berkaitan dengan perbaikan kerja.
2. Sifat
prestatif, yaitu selalu berusaha memperbaiki prestasi, mempergunakan umpan
balik, menyenangi tantangan dan berupaya agar hasil kerjanya selalu lebih baik
dari sebelumnya.
3. Sifat
keleluasan bergaul, yaitu selalu aktif bergaul dengan siapa saja, membina
kenalan-kenalan baru dan berusaha menyesuaikan diri dalam berbagai situasi.
4. Sifat
kerja keras, yaitu berusaha selalu terlibat dalam situasi kerja, tidak mudah
menyerah sebelum pekerjaan selesai. Tidak pernah memberi dirinya kesempatan
untuk berpangku tangan, mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan, dan
memiliki tenaga untuk terlibat terus-menerus dalam kerja.
5. Sifat
keyakinan diri, adalah dalam segala kegiatannya penuh optimisme bahwa usahanya
akan berhasil. Dia percaya diri bergairah langsung terlibat dalam kegiatan
konkret,jarang terlihat ragu-ragu.
6. Sifat
pengambilan risiko yang diperhitungkan, yaitu tidak khawatir akan menghadapi
situasi yang serba tidak pasti di mana usahanya belum tentu membuahkan
keberhasilan.
7. Sifat
swa-kendali, yaitu benar-benar menentukan apa yang harus dilakukan dan
bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
8. Sifat
inovatif, yaitu selalu bekerja keras mencari cara-cara baru untuk memperbaiki
kinerjanya. Terbuka untuk gagasan,pandangan, penemuan-penemuan baru yang dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan kinerjanya.
9. Sifat
mandiri, yaitu apa yang dilakukan merupakan tanggung jawab pribadi.
G.
CARA BERDAGANG RASULULLAH
Lebih dari 14 abad silam, Muhammad saw sebelum
mencapai jenjang kerasulannya, telah dikenal sebagai pebisnis muda yang
disegani. Untuk sampai pada tataran itu, bukan jalan mudah. Seperti yang
kebanyakan dikeluhkan para pengusaha, Muhammad saw pun tidak memiliki cukup
modal. Jangankan modal, dirinya pun hanya hidup sederhana menumpang di rumah
pamannya, Abu Thalib ra, yang papa.
Rasulullah SAW adalah seorang pebisnis dan pedagang
yang handal. Visi beliau dalam berdagang hanya satu, yaitu:
“Bahwa transaksi bisnis sama sekali tidak ditujukan
untuk memupuk kekayaan pribadi, namun justru untuk membangun kehormatan dan
kemuliaan bisnis dengan etika yg tinggi. Adapun hasil yang didapat harus
didistribusikan ke sebanyak mungkin umat.”
Prinsip yang beliau pegang cukup 3 hal saja, yaitu:
- Jujur
- Saling menguntungkan kedua pihak
- Hanya menjual produk yang bermutu tinggi
Tiga prinsip di atas menjiwai cara bisnis beliau.
Berikut adalah teladan beliau sebagai seorang pedagang/penjual:
- Tidak boleh berbohong dan menipu pembeli mengenai barang yang dijual
- Carilah keuntungan yang wajar. Jika pembeli bertanya, sebutkan harga modalnya
- Kepada para pelanggan yang tidak mampu membayar kontan (tunai), berikanlah waktu untuk melunasinya. Bila dia betul-betul tidak mampu membayar setelah masa tenggat pengunduran itu, padahal dia telah berusaha, maka ikhlaskanlah
- Hindari sumpah yang berlebihan, apalagi sumpah palsu untuk mengelabui konsumen
- Lakukan transaksi jika telah ada kata sepakat antara penjual dan pembeli
- Lakukan penimbangan dan penakaran dengan benar dan setepat mungkin
- Camkan pada pembeli bahwa yang membayar di muka bahwa ia tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut benar-benar menjadi miliknya (terbayar lunas terlebih dahulu)
- Jangan melakukan transaksi monopoli dalam perdagangan, berikan kesempatan yang lain untuk berdagang juga.
Prinsip
Nabi, pedagang yang tak jujur, meskipun sesaat mendapatkan keuntungan banyak,
tapi pelan tapi pasti akan gagal dalam menggeluti profesinya. Karena itu, dia
selalu menasehati sahabat-sahabatnya untuk melakukan hal serupa. Apalagi saat
Nabi memimpin ummat di Madinah. Praktek-praktek perdagangan yang mengandung
unsur penipuan, riba, judi, ketidakpastian dan meragukan, eksploitasi,
pengambilan untung yang berlebihan dan pasar gelap belia larang. Nabi juga
memelopori standardisasi timbangan dan ukuran.
Nabi
sangat konsen dengan kejujuran. Sampai-sampai, orang yang jujur dalam
berdagang, digaransinya masuk dalam golongan para nabi. Abu Sa'id meriwayatkan
bahwa Rasulullah berkata, "Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan
dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada."
1. SIKAP
BAIK DALAM BERDAGANG
Dalam
urusan dagang, nabi selalu bersikap sopan dan baik hati. Jabir meriwayatkan
bahwa Rasulullah berkata, "Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati
ketika ia menjual dan membeli, dan ketika dia membuat keputusan." (HR
Bukhari).
Nabi juga menghindari sikap belebihan dalam berdagang, seperti banyak bersumpah. Tentang hal ini, nasehat Rasulullah, "Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi dagang, sebab itu dapat menghasilkan penjualan yang cepat, lalu menghapuskan berkah."
Nabi sangat membenci orang-orang yang dalam dagangnya menggunakan sumpah palsu. Beliau mengatakan, pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan berbicara, melihatpun tidak kepada orang yang semasa hidup berdagang dengan menggunakan sumpah palsu.
2. HAK-HAK
KELOMPOK DALAM TRANSAKSI
Dalam
proses pertukaran barang dengan persetujuan antara kedua belah pihak,
seringkali ada konflik. Untuk menghindari ini, Nabi telah meletakkan dasar,
bagaimana transaksi seharusnya terjadi. Ibnu 'Umar meriwaytakan dari
Rasulullah, "Kedua kelompok di dalam transaksi perdagangan memiliki hak
untuk membatalkannya hanya sejauh mereka belum berpisah, keculai transasksi itu
menyulitkan kelompok itu untuk membatalkannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam
riwayat lain disebutkan, "Kedua belah pihak dalam transaksi perdagangan
berhak membatalkan, selama mereka tidak berpisah. Jika mereka berkata benar,
menjelaskan sesuatunya dengan jernih, maka transaksi mereka akan mendapatkan
berkah. Tapi jika menyembunyikan sesuatu serta berdusta, maka berkah yang ada
dalam transaksi mereka akan terhapus." (Bukhari dan Muslim).
-
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila
dilakukan penjualan, katakanlah: tidak ada penipuan.”
-
Rasulullah SAW bersabda, “Kedua
belah pihak dalam transaksi perdagangan berhak membatalkan, selama mereka tidak
berpisah. Jika mereka berkata benar, menjelaskan sesuatunya dengan jernih, maka
transaksi mereka akan mendapatkan berkah. Tapi jika menyembunyikan sesuatu
serta berdusta, maka berkah yang ada dalam transaksi mereka akan terhapus.”
(Bukhari dan Muslim)
-
Jabir meriwayatkan bahwa
Rasulullah SAW berkata, “Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati ketika
ia menjual dan membeli, dan ketika dia membuat keputusan.” (HR Bukhari)
Sebagai Epilog, saya ingin melampirkan puisi tentang
pengusaha
Karena
Aku Seorang Pengusaha…
Ketika
orang lain baru mulai bekerja, aku sudah menyelesaikan ¼ dari pekerjaanku hari
itu. Tetapi ketika orang lain selesai dengan pekerjaannya, aku baru
menyelesaikan ¾ dari pekerjaanku.
Aku
bekerja 2 kali lebih banyak dari yang dilakukan orang lain, bukan karena ada
yang menyuruh aku melakukannya. Bukan pula karena aku harus melakukannya,
tetapi karena aku memang senang melakukannya.
Ketika
akhir bulan tiba, orang-orang lain yang bekerja umumnya gembira menerima upah
dari pekerjaannya. Akupun gembira, tetapi bukan karena menerima upah dari
pekerjaanku – karena aku masih mampu membayar upah para bekerja.
Ketika
segala sesuatunya tidak berjalan semestinya, orang lain bisa menyalahkan
atasannya, bisa menyalahkan system, bisa menyalahkan pasar, bisa menyalahkan
krisis dan bahkan bisa menyalahkan cuaca. Tidak demikian denganku, the buck
stops here – nobody else to blame, semua masalah menjadi tanggung jawabku –
tidak ada orang lain yang patut disalahkan.
Ketika
orang lain melihat masalah di sekitar mereka, aku melihatnya peluang untuk
diatasi. Ketika orang lain melihat sampah, aku melihatnya bahan baku untuk
industri.
Ketika
orang lain sibuk untuk menabung kelebihan uang mereka, aku juga selalu sibuk
untuk mencari solusi bagaimana mendanai berbagai ide usaha. Orang lain mendapat
bagi hasil yang pasti, tidak demikian dengan dana usahaku – tidak ada yang bisa
memberikan jaminan yang pasti.
Di
akhir pekan, di hari liburan – orang lain bisa sepenuhnya istirahat dengan
melupakan segala persoalan pekerjaannya. Tidak demikian denganku, tidak ada
waktu untuk berlibur dari tanggung jawab – aku harus tetap siaga dimanapun aku
berada.
Ketika
orang lain berlibur adalah berlibur - tidak ada yang boleh mengganggunya,
kadang aku-pun ber –‘libur’ tetapi bukan untuk berlibur – aku mencari peluang
dengannya.
Di
akhir malam, ketika orang lain berdoa untuk mendapatkan pekerjaan, jabatan yang
baik dan karir yang cemerlang nanti. Akupun berdoa untuk mampu menjaga amanah,
untuk diberi dan dipertemukan dengan orang-orang yang jujur – adil – dan
hati-hati agar tidak ada rasa bimbang di hati.
Orang
lain akan pensiun pada waktunya, menikmati hari tua dengan dana pensiunnya atau
dengan tunjangan hari tuanya. Tidak denganku, usia tidak menghalangiku untuk
tetap bekerja, dana pensiun dan tunjangan hari tua-ku telah habis ketika aku
membutuhkan modal usaha.
Ketika
istri-istri orang lain sibuk mengelola penghasilan para suami mereka,
istriku-pun sibuk – bukan untuk mengelola penghasilanku, tetapi untuk ikut
berusaha dan menjaga agar orang lain tetap bisa bekerja.
Ketika
anak-anak orang lain mendapatkan jatah uang saku bulanannya, anak-anakku harus
bekerja untuk memperoleh uang sakunya. Bagi anak-anakku, uang saku bukan
something to be given (sesuatu yang harus diberikan) kepada mereka, tetapi
something to be earned (sesuatu yang harus diusahakan) oleh mereka.
Satu
demi satu usaha terus aku rintis, bukan karena aku ingin terus bertambah kaya –
karena memang ternyata tidak semuanya berbuah hasil. Tetapi karena aku memang
senang melakukannya, untuk tetap bisa berbuat adil.
Aku
tahu domainku hanya untuk berusaha dan bekerja dengan senang, masalah hasil
adalah domain dan kuasa dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku
hanyalah pelaku, Dia-lah Sang Penentu.
Karenanya,
tidak patut aku berbangga dengan hasil usaha, tetapi syukurku yang terus aku
panjatkan atas kesempatan yang telah diberikanNya kepadaku untuk tetap
bisa berusaha. Karena aku seorang pengusaha, tugasku hanya berusaha
DAFTAR PUSTAKA
Atian, Ahmad. 2010.
Menuju Kemenangan Dakwah kampus, Panduan Bagi Aktivis Dakwah Kampus. Solo: Era
Adicitra Intermedia.
FSLDK, GAMAIS ITB.
2010. Risalah Manajemen Dakwah Kampus,
edisi revisi. Bandung: Tim Penyusun SPMN FSLDK Nasional.
Buku Pengantar Kewirausahaan.
Entrepreneur & entrepreneurship Group
Tidak ada komentar:
Posting Komentar