UPAYA PENURUNAN HIPERTENSI DENGAN PEMBERIAN EKSTRAK KAYU SECANG (CAESALPINIA SAPPAN L)
DI KOTA PONTIANAK
Disusun Oleh:
Kelompok 10
1.
Arrany Rahmaning Safitri (I11109092)
2.
Gagat Adiyasa (I11109071)
3.
Hardianto (I11109066)
4.
Lida Febriana (I11109056)
5.
Natuna Adiputra (I11109095)
6.
Nopitasari (I11109065)
7.
Rianti Muharromi (I11109033)
8.
Riyang Pradewa (I11109035)
9.
Suci Permatasari (I11109040)
![]() |
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2009-2010
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI....................................................................................................... i BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang................................................................................... 2
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................. 2
1.3 Hipotesis............................................................................................ 2
1.4 Tujuan Penelitian............................................................................... 2
1.5 Manfaat Penelitian............................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 3
2.1 Secang
(Caesalpinia sappan L.)........................................................ 3
2.1.1 Definisi Secang (Caesalpinia sappan L.).................................. 5
2.1.2 Klasifikasi Secang (Caesalpinia
sappan L.) ............................ 5
2.1.3 Ciri-ciri Secang (Caesalpinia
sappan L.) ................................. 5
2.1.4 Kandungan Secang (Caesalpinia
sappan L.)............................ 5
2.1.5 Manfaat Secang (Caesalpinia
sappan L.) ................................ 5
2.1.6 Distribusi/penyebaran Secang (Caesalpinia
sappan L.) ........... 5
2.2 Hipertensi........................................................................................... 3
2.2.1 Definisi hipertensi...................................................................
2.2.2 Klasifikasi hipertensi...............................................................
2.2.3 Etiologi hipertensi...................................................................
2.2.4 Epidemiologi hipertensi..........................................................
2.2.5 Pravelensi hipertensi...............................................................
2.2.6 Gambaran klinis hipertensi......................................................
2.2.7 Patofisiologi hipertensi...........................................................
2.2.8 Pathogenesis
hipertensi...........................................................
2.2.9 Diagnosis terhadap hipertensi.................................................
2.2.10 Pencegahan
hipertensi.............................................................
2.2.11 Pengobatan
hipertensi.............................................................
2.2.12 Prognosis
hipertensi................................................................
2.3 Kerangka Teori.................................................................................. 9
BAB III METODOLOGI PENELITIAN.......................................................... 11
3.1 Desain Penelitian............................................................................... 11
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian............................................................ 11
3.3 Populasi dan Sampel.......................................................................... 12
3.4 Sampel dan Cara Pemilihan Sampel.................................................. 12
3.5 Estimasi Besar Sampel....................................................................... 12
3.6 Kriteria Inklusi dan Eksklusi............................................................. 13
3.7 Persetujuan Setelah Penjelasan/Informed
Consent............................ 13
3.8 Cara Pengumpulan Data.................................................................... 14
3.8.1 Alokasi Subyek......................................................................... 14
3.8.2 Cara Pengambilan Sampel........................................................ 14
3.8.3 Kriteria Penghentian Penelitian................................................ 14
3.9 Identifikasi Variabel.......................................................................... 14
3.10 Definisi Operasional........................................................................ 15
3.11 Rencana Pengolahan dan Analisis Data.......................................... 15
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 16
LAMPIRAN........................................................................................................ 17
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Menurut
WHO, prevalensi hipertensi di negara maju berkisar 20% sedangkan di Indonesia
berkisar 10%. Data SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) tahun 1992 dikatakan
bahwa penyebab kematian terbanyak 16,4% disebabkan oleh karena penyakit jantung
dan pembuluh darah yang di antaranya adalah hipertensi, sedangkan kematian
terbanyak akibat penyakit ini dijumpai pada usia 44 tahun ke atas. Jumlah yang
cukup besar ini tentunya berpengaruh terhadap produktivitas kerja penderitanya karena menyerang pada usia produktif. Penderita usia
lanjut akan menjadi beban perekonomian terutama dalam lingkup keluarga karena
biaya pengobatan dan obat yang sering sekali berlangsung seumur hidup.
Obat untuk hipertensi semakin
berkembang dari tahun ke tahun. Penelitian-penelitian untuk menemukan obat
dengan efektivitas yang lebih baik dan efek yang seminimal mungkin terus
berlanjut. Namun di sisi lain secara turun temurun sebenarnya telah dikenal
pengobatan tradisional untuk mengatasi hipertensi. Penggunaan obat tradisional
sudah cukup luas dan diakui secara empiris banyak membantu mengurangi keluhan
pada penderita hipertensi. Pengobatan tradisional ini secara tersamar telah
mendampingi obat modern bahkan keberadaannya mendahului pengobatan modern yang sekarang
lebih dikenal dan diakui.
Peneliti tertarik untuk meneliti
kayu secang karena memiliki kandungan kimia antara lain asam galat, brazilin,
brasilein, delta-α Phellandrene, oscimene, resin, reorsin, minyak astiri, dan
tanin. Efek farmakologis tanaman secang antara lain penghenti pendarahan,
pembersih darah, pengelat, kontrasepsi alami karena menghambat pematangan
sperma, penawar racun, obat mencret, obat batuk, dan obat luka dan obat anti
septic (Hariana, 2006).
Sehubungan dengan keadaan tersebut,
penelitian ini bertujuan mengkaji penggunaan secang (Caesalpinea sappan l.) sebagai obat hipertensi yang dilaksanakan di
Kota Pontianak oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan program
studi Pendidikan Dokter Universitas Tanjungpura.
1.2 RUMUSAN
MASALAH
Apakah ekstrak kayu secang dapat
menurunkan tekanan darah penderita hipertensi?
1.3 HIPOTESIS
Ekstrak kayu secang dapat menurunkan
tekanan darah penderita hipertensi.
1.4 TUJUAN
PENELITIAN
1.4.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui pengaruh ekstrak kayu secang terhadap penurunan
hipertensi.
1.4.2 Tujuan khusus
1) Mengetahui perbedaan antara penderita hipertensi
yang sering, jarang, dan tidak mengonsumsi ekstrak kayu secang.
2) Mengetahui manfaat dan faktor pencegah ekstrak kayu
secang terhadap hipertensi.
3) Mengetahui kandungan ekstrak kayu secang yang dapat
menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
1.5 MANFAAT
PENELITIAN
1.5.1 Bagi peneliti
Mengetahui manfaat dan pengaruh ekstrak kayu secang terhadap penderita
hipertensi.
1.5.2 Bagi masyarakat
Dapat meningkatkan kesehatan masyarakat serta mendapatkan pengetahuan
mengenai hipertensi meliputi cara pencegahan dan pengobatan hipertensi.
1.5.3 Bagi pemerintah
Dapat melakukan tindak lanjut berupa penatalaksanaan
dan pencegahan hipertensi.
1.5.4 Bagi ilmu pengetahuan
Dapat mengembangkan ilmu kedokteran dan farmakologi
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 SECANG (CAESALPINIA SAPPAN L.)
2.1.1. Definisi
Secang (Caesalpinia sappan L.)
Tanaman secang
adalah tanaman yang banyak tumbuh di tempat terbuka sampai ketinggian 1700
meter dpl, seperti di daerah pegunungan yang berbatu tetapi tidak terlalu
dingin. Secang tumbuh liar dan kadang ditanam sebagai tanaman pagar atau
pembatas kebun, dan mempunyai khasiat antara lain penghenti pendarahan,
pembersihdarah, pengelat, penawar racun, dan obat antiseptic.
2.1.2 Determinasi
Tanaman Secang (Caesalpinia sappan L.)
Klasifikasi
Tanaman
Divisi :
Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas :
Dicotyledonae
Bangsa : Rosales
Suku :
Caesalpiniaceae
Marga : Caesalpinia
Spesies : Caesalpinia
sappan L. (Anonim, 2000).
Nama Inggris : Sappanwood, Indian redwood
Nama Indonesia :
Secang, sapan
Nama Lokal: Tanaman
kayu secang memiliki nama daerah yang bermacam-bermacam antara lain seupeung
(Aceh), sepang (Gayo), sopang (Batang), lacang (Minangkabau), secang (Sunda),
soga jawa (Jawa), kayu secang (Jawa Tengah), kayu secang (Madura), cang (Bali),
sepang (Sasak), supa (Bima), sepel (Timor), hape (Sawu), hong (Alor), sepe
(Roti), kayu sema (Manado), dolo (Bare), sapang (Makasar), sepang (Bugis),
sepen (Halmahera Selatan), savala (Halmahera Utara), sungiang (Ternate), roro
(Tidore) (Anonima, 2000).
2.1.3 Ciri-ciri Secang (Caesalpinia sappan L.)
Morfologi Tanaman
2.1.3.1 Habitus
Habitus tanaman secang berupa perdu,
dan tanaman bisa mencapai ketinggian ± 6 m (Anonima, 2000).
2.1.3.2 Batang
Batang tanaman secang berkayu
berbentuk bulat, berwarna hijau Kecoklatan, batang kasar, dan berduri tersebar
(Anonima, 2000).
2.1.3.3 Daun
Tanaman secang memiliki daun majemuk,
menyirip ganda, dengan panjang 25 - 40 cm, jumlah anak daun 10-20 pasang,
berbentuk lonjong, pangkal rompang, dengan ujung bulat, bertepi rata, panjang
10-25 mm, lebar 3-11 mm, dan berwarna hijau (Anonima, 2000).
2.1.3.4 Bunga
Tanaman secang memiliki bunga
majemuk, berbentuk malai, berada di ujung batang, dengan panjang 10-40 cm.
Tanaman ini juga, memiliki kelopak berjumlah lima, berwarna hijau, dengan
benang sari 15 mm, panjang putik 18 mm, dengan mahkota berbentuk tabung, dan
berwarna kuning (Anonima, 2000).
2.1.3.5 Buah
Tanaman secang memiliki buah berupa
polong, dengan panjang 8-10 cm, lebar 3-4 cm, ujung seperti paruh, berisi 3-4
biji, dan berwarna hitam (Anonima, 2000).
2.1.3.6 Biji
Tanaman secang memiliki biji
berbentuk bulat panjang, dengan panjang 15-18 mm, tebal 5-7 mm, dan berwarna
kuning kecoklatan (Anonima, 2000).
Sifat : tidak berbau, rasa agak kelat
Pemeriksaan Makroskopi
Kayu berbentuk
potongan-potongan atau kepingan dengan ukuran sangat bervariasi atau berupa
serutan-serutan : keras dan padat ; warna merah jingga atau kuning.
Xilem : jelas, radier dengan jari-jari
xilem terdiri dari 1 sampai 3 baris sel yang berisi butir pati kecil, tunggal
dan berkelompok. Pembuluh kayu atau trakhea : umumnya berkelompok,
kadang-kadang tunggal, garis tengah 25 µm sampai 120 µm, dinding tebal,
berlignin, bernoktah yang berupa noktah halaman dengan lubang berbentuk celah,
lumen umumnya berisi zat yang berwarna merah keunguan, merah kekuningan sampai
merah kecoklatan.
Serabut xilem : berkelompok, tersusun
radier, terdiri dari 5 sampai 40 serabut, dinding serabut tebal berlignin,
lumen sempit, kelompok serabut diliputi seludang sel parenkim, sel parenkim
umumnya berisi hablur kalsium oksalat berbentuk prisma, ukuran hablur 3 µm
sampai 20 µm, umumnya 15 µm
Serbuk : warna jingga kecoklatan. Fragmen
pengenal adalah berkas serabut dengan seludang hablur kalsium oksalat berbentuk
prisma; fragmen pembuluh kayu berpenebalan jala; fragmen serabut, umumnya
panjang dan lumen sempit
2.1.4 Kandungan Secang (Caesalpinia sappan L.)
Tanaman secang
kaya akan kandungan kimia. Kayunya mengandung asam galat, brasilin, brasilein,
delta-α phellandrene, oscimene, resin, resorsin, minyak atsiri, dan tanin.
Sementara daunnya mengandung 0,16-0,20% minyak atsiri yang beraroma enak dan
tidak berwarna (Hariana, 2006).
Daun dan batang secang mengandung
saponin dan flavonoid.
Kandungan kimia tanaman secang
sebagai berikut:
2.1.4.1Saponin
Saponin mengandung
aglykon polisiklik yang khasnya adalah berbuih saat dikocok dengan air.
Kemampuan berbusa saponin disebabkan oleh bergabungnya saponegin nonpolar dan
sisi rantai yang larut dalam air. Saponin menyebabkan rasa pahit pada tumbuhan
seperti secang.
2.1.4.2 Flavonoid
Flavonoid merupakan
golongan senyawa bahan alam dari senyawa fenolik yang banyak merupakan pigmen
tumbuhan. Fungsi kebanyakan flavonoid dalam tubuh manusia adalah sebagai
antioksidan. Antioksidan melindungi jaringan terhadap kerusakan oksidatif
akibat radikal bebas yang berasal dari proses-proses dalam tubuh atau dari
luar, dan memiliki hubungan sinergis dengan vitamin C (meningkatkan efektivitas
vitamin C).
Dalam banyak kasus,
flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan mengganggu
fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri atau virus.
2.1.4.3 Polifenol
Polifenol memiliki
tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya. Pada beberapa
penelitian disebutkan bahwa kelompok polifenol memiliki peran sebagai
antioksidan.
2.1.4.4 Minyak atsiri
Minyak atsiri, atau
dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, serta
minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan
kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas.
Beberapa jenis minyak atsiri digunakan sebagai bahan astiseptik internal dan
eksternal, untuk bahan analgesic, haemolitic atau sebagai antizymatic serta
sebagai sedavita dan stimulans untuk obat sakit perut.
2.1.4.5 Tanin dan Asam
Galat
Tanin adalah komponen
zat organik yang sangat komplek dan terdiri dari senyawa fenolik yang mempunyai
berat molekul 500 – 3000, dapat bereaksi dengan protein membentuk senyawa
komplek larut yang tidak larut. Tanin bersifat sebagai antibakteri dan
astringent atau menciutkan dinding usus yang rusak karena asam atau bakteri.
Kadar tanin ekstrak kayu secang yang diperoleh dengan perebusan selama 20 menit
adalah 0,137%
Tanin dan asam galat
dalam secang diduga berperan dalam menghentikan pendarahan.
2.1.4.6 Brasilin
Basilin/brazilin adalah
golongan senyawa yang memberi warna merah pada kayu secang dengan struktur
C6H14O5 dalam bentuk kristal berwarna kuning sulfur, larut air dan berasa
manis, akan tetapi jika teroksidasi akan menghasilkan senyawa brazilein yang
berwarna merah kecoklatan. Brazilin merupakan senyawa antioksidan yang
mempunyai katekol dalam struktur kimianya. Berdasarkan aktivitas antioksidnnya,
brazilin diharapkan mempunyai efek melindungi tubuh dari keracunan akibat
radikal kimia. Brazilin juga diduga mempunyai efek anti-inflamasi.
2.1.5 Manfaat Secang (Caesalpinia sappan L.)
Kayu C. sappan L. berkhasiat
sebagai obat mencret, obat batuk dan obat luka (Anonima, 2000). Efek
farmakologis tanaman secang antara lain penghenti pendarahan, pembersih darah,
pengelat, kontrasepsi alami karena menghambat pematangan sperma, penawar racun
dan obat anti septik (Hariana,2006).
2.1.6 Distribusi/penyebaran Secang (Caesalpinia sappan L.)
Asal usul daerah asli
Kayu Secang belum diketahui. Namun ada yang menganggap berasal dari daerah
bagian tengah dan selatan India, kemudian ke Burma, Thailand, Indo-Cina dan
Cina Selatan hingga ke Semenanjung Malaysia. Tumbuhan ini telah dibudidayakan
dan telah dapat tumbuh secara alami di banyak tempat di Malesia (Indonesia,
Filippina, Papua New Guinea) dan juga di India, Sri Lanka, Taiwan, Kepulauan
Solomon, dan Hawaii.Banyak tumbuh di pekarangan daerah Jawa, juga dijumpai di
pegunungan berbatu pada daerah yang tidak terlalu dingin di Sulawesi Selatan.
Di habitat alaminya,
sebagian besar pohon Kayu secang tumbuh pada tempat-tempat yang berbukit dengan
tipe tanah seperti liat dan berbatu-batu, pada daerah dengan ketinggian tempat
rendah dan sedang. Di semenanjung Malaysia, pohon ini tumbuh dengan sangat baik
pada tepi-tepi sungai yang berpasir. Pohon ini tidak toleran pada tanah-tanah
yang terlalu basah. Pohon kayu secang tumbuh pada lokasi-lokasi yang memiliki
kisaran curah hujan tahunan 700-4300 mm, rata-rata suhu udara tahunan adalah
24-27.5°C, dan dengan kisaran pH tanah adalah 5-7,5. Tumbuhan ini banyak
dijumpai pada dataran rendah hingga ketinggian 1700 m dpl.
2.2 HIPERTENSI
2.2.1 Definisi hipertensi
Hipertensi
adalah tekanan darah arterial tinggi;berbagai criteria sebagai batasnya telah
di ajukan, berkisar dari sistol 140 mmHg dan diastol 90 mmHg hingga setinggi
sistol 200 mmHg dan diastol 110 mmHg.(Dorland)
2.2.2 Klasifikasi hipertensi
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi)
adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri.
Secara
umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang
abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke,
aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.
Pada pemeriksaan tekanan
darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat
jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada
saat jantung berelaksasi (diastolik).
Tekanan darah ditulis
sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg,
dibaca seratus dua puluh per delapan puluh. Dikatakan tekanan darah tinggi jika
pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan
diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Pada tekanan darah
tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.
Pada hipertensi
sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi
tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran
normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.
Sejalan dengan bertambahnya
usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik
terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat
sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun
drastis.
Hipertensi maligna
adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak diobati, akan menimbulkan
kematian dalam waktu 3-6 bulan. Hipertensi ini jarang terjadi, hanya 1 dari
setiap 200 penderita hipertensi.
Tekanan darah dalam
kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal
memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa.
Tekanan darah juga
dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan
aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari
juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat
tidur malam hari.
Tabel I. Klasifikasi tekanan darah untuk orang
dewasa yang berusia 18 tahun atau lebih.1
|
Kategori
|
Sistolik (mmHg)
|
|
Diastolik (mmHg)
|
|
Optimal
Normal
Normal tinggi
Hipertensi
Derajat I
Derajat II
Derajat III
|
< 120
<130
130 – 139
140 – 159
160 – 179
≥ 180
|
dan
dan
atau
atau
atau
atau
|
< 80
<85
85 – 89
90 – 99
100 – 109
≥ 110
|
Sumber : The sixth Report of The Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure, sixth report (JNC VI). Dikutip oleh Debra A. Krummel.
Medical Nutrition Therapy in Hypertension. Dalam L. Kathleen M, Sylvia Escoott.
Krause’s Food, Nutrition, & Diet Therapy. USA: Elsevier; 2004
2.2.3 Etiologi hipertensi
Pada sekitar 90%
penderita hipertensi, penyebabnya tidak diketahui dan keadaan ini dikenal
sebagai hipertensi esensial atau hipertensi primer.
Hipertensi esensial
kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan
pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya
diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita
hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya
adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi
lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal
yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin
(noradrenalin).
Kegemukan (obesitas),
gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam
dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki
kepekaan yang diturunkan.
Stres cenderung
menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah
berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.
Beberapa penyebab
terjadinya hipertensi sekunder:
1)
Penyakit Ginjal
2)
Stenosis arteri renalis
3)
Pielonefritis
4)
Glomerulonefritis
5)
Tumor-tumor ginjal
6)
Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
7)
Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
8)
Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
Kelainan Hormonal
1)
Hiperaldosteronisme
2)
Sindroma Cushing
3)
Feokromositoma
Obat-obatan
1)
Pil KB
2)
Kortikosteroid
3)
Siklosporin
4)
Eritropoietin
5)
Kokain
6)
Penyalahgunaan alkohol
7)
Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
Penyebab Lainnya
1)
Koartasio aorta
2)
Preeklamsi pada kehamilan
3)
Porfiria intermiten akut
4)
Keracunan timbal akut.
2.2.4 Epidemiologi hipertensi
Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan
darah yang memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti
stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan
untuk otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan
masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia.
Semakin meningkatnya populasi usia lanjut maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan
besar juga akan bertambah. Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi
terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000,
di perkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan
pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini.
Hasil penelitian Oktora (2007) mengenai gambaran
penderita hipertensi yang dirawat inap di bagian penyakit dalam RSUD Arifin
Achmad Pekanbaru tahun 2005 didapatkan penderita hipertensi meningkat secara
nyata pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu sebesar 24,07% dan mencapai
puncaknya pada kelompok umur ≥
65 tahun
yaitu sebesar 31,48%. Jika dibandingkan antara pria dan wanita didapatkan
wanita lebih banyak menderita hipertensi yaitu sebesar 58,02% dan pria sebesar
41,98%.
2.2.5 Pravelensi hipertensi
Prevalensi merupakan salah
satu penyakit utama di dunia prevalensi hipertensi semakin meningkat, hampir
972 juta penduduk dunia saat ini mengalami hipertensi.
Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia
telah banyak dikumpulkan dan menunjukkan di daerah pedesaan masih banyak
penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case
finding maupun penatalaksanaan
pengobatannya. Jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian besar
penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan.
Prevalensi terbanyak
berkisar antara 6 sampai dengan 15%, tetapi angka prevalensi yang rendah
terdapat di Ungaran, Jawa Tengah sebesar 1,8% dan Lembah Balim Pegunungan Jaya
Wijaya, Irian Jaya sebesar 0,6% selanjutnya angka prevalensi tertinggi di
Talang Sumatera Barat 17,8%. Sedangkan angka kejadian penderita hipertensi di
RSUD Sudarso sendiri yaitu sekitar 240 orang pada tahun 2009 dan 50 orang pada
tahun 2010.
2.2.6 Gambaran klinis hipertensi
Gejala
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi
: ( Edward K Chung, 1995)
2.2.6.1
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal
ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan
arteri tidak terukur.
2.2.6.2
Gejala Yang Lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai
hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari
pertolongan medis.
Pemeriksaan Penunjang
1. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara
menyeluruh
2. Pemeriksaan retina
3.
Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti ginjal dan
jantung
4. EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri
5. Urinalisa untuk mengetahui protein dalam urin,
darah, glukosa
6. Pemeriksaan : renogram, pielogram intravena
arteriogram renal, pemeriksaan fungsi ginjal terpisah dan penentuan kadar urin.
7. Foto dada dan CT scan
<Pengkajian
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, letih,
napas pendek, gaya hidup monoton
Tanda : frekuensi jantung
meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi,
aterosklerosis, penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler
Tanda : Kenaikan TD, hipotensi
postural, takhikardi, perubahan warna kulit, suhu dingin
3. Integritas Ego
Gejala :Riwayat perubahan
kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, factor stress multipel
Tanda : Letupan suasana hati,
gelisah, penyempitan kontinue perhatian, tangisan yang meledak, otot muka
tegang, pernapasan menghela, peningkatan pola bicara
4. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat
ini atau yang lalu
5. Makanan / Cairan
Gejala : makanan yang disukai
yang dapat mencakup makanan tinggi garam, lemak dan kolesterol
Tanda : BB normal atau
obesitas, adanya edema
6. Neurosensori
Gejala : keluhan
pusing/pening, sakit kepala, berdenyut sakit kepala, berdenyut, gangguan
penglihatan, episode epistaksis
Tanda :, perubahan orientasi,
penurunan kekuatan genggaman, perubahan retinal optik
7. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : Angina, nyeri hilang
timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat, nyeri abdomen
8. Pernapasan
Gejala : dispnea yang
berkaitan dengan aktivitas, takipnea, ortopnea, dispnea nocturnal proksimal,
batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok
Tanda : distress respirasi/
penggunaan otot aksesoris pernapasan, bunyi napas tambahan, sianosis
9. Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi,
cara jalan
Tanda : episode parestesia
unilateral transien, hipotensi postural
10. Pembelajaran/Penyuluhan
Gejala : factor resiko
keluarga ; hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM , penyakit ginjal
Faktor resiko etnik, penggunaan pil KB atau hormone
1.
Penggolongan Tekanan Darah
|
Tekanan Darah
|
Sistolik
(angka pertama)
|
Diastolik
(angka kedua)
|
|
Darah rendah atau hipotensi
|
Di bawah 90
|
Dibawah 60
|
|
Normal
|
90 – 120
|
60 – 80
|
|
Pre-hipertensi
|
120 – 140
|
80 - 90
|
|
Hipertensi (stadium 1)
|
140 – 160
|
90 – 100
|
|
Hipertensi (stadium 2/ berbahaya)
|
Di atas 160
|
Di atas 100
|
2.2.7 Patofisiologi hipertensi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui
terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin
I converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam
mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi
di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi
angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah
menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam
menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon
antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar
pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin.
Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh
(antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk
mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara
menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang
pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron
dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan
penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron
akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus
ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara
meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan
volume dan tekanan darah.

2.2.8 Pathogenesis hipertensi
Pathogenesis hipertensi merupakan interaksi dari faktor
genetik dan faktor lingkungan. Kaitan kedua faktor tersebut dibuktikan dari
adanya gen-gen yang mengatur respon tubuh terhadap pengaruh factor lingkungan
seperti stress dan diet.
Pathogenesis Hipertensi
Hipertensi merupakan
penyakit yang multifaktor diantaranya:
a. Asupan
garam berlebih dapat menyebabkan peningkatan volume cairan sedangkan
peningkatan volume cairan menyebabkan peningkatan preload yang berakibat
tekanan darah meningkat.
b. Jumlah
nefron yang berkurang dapat menyebabkan retensi natrium ginjal dan penurunan
permukaan filtrasi. Apabila terjadi retensi urin pada ginjal volume cairan akan
meningkat sehingga terjadi peningkatan tekanan darah.
c. Stress
akan berakibat pada penurunan permukaan filtrasi, aktivitas saraf simpatis yang
lebih serta produksi berlebih renin angiotensin. Aktifitas saraf simpatis
yang berlebih mengakibatkan peningkatan
kontraktilitas sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Produksi rennin
angiotensin yang berlebih mengakibatkan konstriksi fungsionil dan hipertrofi
structural sehingga tekanan darah dapat meningkat.
d.
Perubahan genetis dapat menyebabkan perubahan
pada membran sel sehingga terjadi konstriksi fungsionil dan hipertrofi
structural, akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah. Obesitas juga dapat
meningkatkan tekanan darah karena pada obesitas terjadi hiperinsulinemia yang
dapat menyebabkan hipertrofi structural. Akibatnya adanya hipertrofi
structural, maka terjadilah peningkatan tekanan darah.
e.
Bahan-bahan yang
berasal dari endotel juga dapat menyebabkan konstriksi fungsionil dan
hipertrofi struktural yang mengakibatkan peningkatan tekanan
darah.
2.2.9 Diagnosis terhadap hipertensi
Tekanan darah diukur setelah
seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit. Angka 140/90 mmHg atau lebih
dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi diagnosis tidak dapat ditegakkan
hanya berdasarkan satu kali pengukuran.
Jika pada pengukuran pertama
memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian
diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya
hipertensi.
Hasil pengukuran bukan hanya
menentukan adanya tekanan darah tinggi, tetepi juga digunakan untuk
menggolongkan beratnya hipertensi.
Setelah diagnosis ditegakkan,
dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama, terutama pembuluh darah, jantung,
otak dan ginjal.
Retina (selaput peka
cahaya pada permukaan dalam bagian belakang mata) merupakan satu-satunya bagian
tubuh yang secara langsung bisa menunjukkan adanya efek dari hipertensi
terhadap arteriola (pembuluh darah kecil). Dengan anggapan bahwa
perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan yang terjadi di
dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal.
Untuk memeriksa retina, digunakan suatu oftalmoskop. Dengan menentukan derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi.
Untuk memeriksa retina, digunakan suatu oftalmoskop. Dengan menentukan derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi.
Perubahan di dalam jantung,
terutama pembesaran jantung, bisa ditemukan pada elektrokardiografi (EKG)
dan foto rontgen dada.
Pada stadium awal, perubahan tersebut bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung).
Pada stadium awal, perubahan tersebut bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung).
Bunyi jantung yang abnormal
(disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar melalui stetoskop dan
merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat tekanan darah
tinggi.
Petunjuk awal adanya
kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui pemeriksaan air kemih. Adanya
sel darah dan albumin (sejenis protein) dalam air kemih bisa merupakan
petunjuk terjadinya kerusakan ginjal.
Pemeriksaan untuk menentukan
penyebab dari hipertensi terutama dilakukan pada penderita usia muda.
Pemeriksaan ini bisa berupa rontgen dan radioisotop ginjal, rontgen dada serta
pemeriksaan darah dan air kemih untuk hormon tertentu.
Untuk menemukan adanya
kelainan ginjal, ditanyakan mengenai riwayat kelainan ginjal sebelumnya. Sebuah stetoskop ditempelkan diatas perut
untuk mendengarkan adanya bruit (suara yang terjadi karena darah
mengalir melalui arteri yang menuju ke ginjal, yang mengalami penyempitan).
Dilakukan analisa air kemih dan rontgen atau USG ginjal.
Jika penyebabnya adalah
feokromositoma, maka di dalam air kemih bisa ditemukan adanya bahan-bahan hasil
penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin.
Biasanya hormon tersebut juga
menyebabkan gejala sakit kepala, kecemasan, palpitasi (jantung
berdebar-debar), keringat yang berlebihan, tremor (gemetar) dan pucat.
Penyebab lainnya bisa
ditemukan melalui pemeriksaan rutin tertentu.
Misalnya mengukur kadar kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanya hiperaldosteronisme dan mengukur tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan adanya koartasio aorta.
Misalnya mengukur kadar kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanya hiperaldosteronisme dan mengukur tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan adanya koartasio aorta.
2.2.10
Pencegahan hipertensi
Resiko seseorang untuk mendapatkan hipertensi
dapat dikurangi dengan cara:
- Memeriksa tekanan darah secara teratur
- Menjaga berat badan dalam rentang normal
- Mengatur pola makan, antara lain dengan mengkonsumsi makanan berserat, rendah lemak dan mengurangi garam.
- Hentikan kebiasaan merokok dan minuman beralkohol
- Berolahraga secara teratur
- Hidup secara teratur
- Mengurangi stress dan emosi
- Jangan terburu-buru
- Mengurangi makanan berlemak
2.2.11
Pengobatan hipertensi
Pengobatan dengan
obat-obatan (farmakologi)
- Diuretik
Obat-obatan
jenis diuretic bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing)
sehingga volume cairan di tubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung
menjadi lebih ringan. Contoh obatnya adalah Hidroklorotiazid.
- Penghambat Simpatetik
Golongan
obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja
pada saat kita beraktivitas). Contohnya adalah : Metildopa, Klonidin dan
Reserpin.
- Betabloker
Mekanisme
kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung.
Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap
gangguan pernapasan seperti asma bronchial. Contoh obatnya adalah : Metopropol,
Propranolol dan Atenolol. Pada penderita diabetes mellitus harus hati-hati,
karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam
darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi
penderitanya). Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran
pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati.
- Vasodilator
Obat
golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos
(otot pe,buluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah: Prasosin,
Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini
adalah: sakit kepala dan pusing.
- Penghambat enzim konversi Angiotensin
Cara
kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat angiotensin II (zat
yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yang termasuk
dalam golongan ini adalah Kaptoptril. Efek samping yang mungkin timbul adalah:
batuk kering, pusing, sakit kepala dan, lemas.
- Antagonis kalsium
Golongan
obat ini ,emurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung
(kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah: Nifedipin, Diltiasem,
dan Veramil. Efek samping yang mungkin timbul adalah: sembelit, pusing, sakit
kepala, dan muntah.
- Penghambat Reseptor Angiotensin II
Cara
kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada
reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang
termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Deovan). Efek samping yang
mungkin timbul adalah: sakit kepala, pusing, lemas, dan mual. Dengan pengobatan
dan control yang teratur, serta menghindari faktor risiko terjadinya
hipertensi, angka-angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.
2.2.12
Prognosis hipertensi
Usia, ras, jenis kelamin,
kebiasaan mengkonsumsi alkohol, hiperkolesterole-mia, intoleransi glukosa dan
berat badan, semuanya mempengaruhi prognosis dari penyakit hipertensi esensial
pada lansia. Semakin muda seseorang terdiagnosis hipertensi pertama kali, maka
semakin buruk perjalanan penyakitnya apalagi bila tidak ditangani (Fauci AS et
al, 1998).
Di Amerika serikat, ras kulit
hitam mempunyai angka morbiditas dan mortalitas empat kali lebih besar dari
pada ras kulit putih. Prevalensi hipertensi pada wanita pre-menopause tampaknya
lebih sedikit dari pada laki-laki dan wanita yang telah menopause. Adanya
faktor resiko independen (seperti hiperkolesterolemia, intoleransi glukosa dan
kebiasaan merokok) yang mempercepat proses aterosklerosis meningkatkan angka
mortalitas hipertensi dengan tidak memperhatikan usia, ras dan jenis kelamin
(Fauci AS et al, 1998).
2.3 KERANGKA KONSEP
![]() |
||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||
![]() |
![]() |
|||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||
3.1 DESAIN
PENELITIAN
Desain penelitian yang akan digunakan untuk penelitian ini adalah
eksperimetal cross-over. Penelitian ini akan dilakukan dengan pemberian ekstrak
kayu secang pada penderita hipertensi.
3.2 TEMPAT DAN
WAKTU PENELITIAN
a. Tempat : Kota Pontianak
b. Waktu : 01 Mei 2010 – 01 Oktober 2010
3.3 POPULASI
DAN SAMPEL
a. Populasi target
Penderita hipertensi di kota Pontianak.
b. Populasi terjangkau
Penderita
Hipertensi yang pernah berobat di RSUD Sudarso pada tahun 2009-2010.
3.4 SAMPEL DAN
CARA PEMILIHAN SAMPEL
Sampel yang diambil adalah penderita hipertensi yang pernah berobat di
RSUD Sudarso pada tahun 2009 (240 orang) dan 2010 (50 orang).
Sampel diambil dengan teknik non-probability sampling yaitu teknik
consecutive sampling yaitu memilih sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan
tidak termasuk dalam kriteria eksklusi.
3.5 ESTIMASI
BESAR SAMPEL
Dalam
penelitian ini untuk pengaruh ekstrak kayu secang terhadap penurunan hipertensi
yang berjumlah 290 orang (240 pada tahun 2009 dan 50 pada tahun 2010) dengan
derajat kemaknaan (CI) sebesar 95% dan estimasi penyimpangan data (a) sebesar
5% dapat diperhitungkan Besar sampel minimum dengan formula sebagai berikut:
n = 
n = besar sampel
N = Jumlah
populasi
d = tingkat
kepercayaan
n =
=
=
= 168
dari perhitungan
tersebut didapatkan jumlah sampel minimum 168 sampel.
3.6 KRITERIA
INKLUSI DAN EKSKLUSI
a. Inklusi
Pasien dengan hipertensi pada tahun 2010 di RSUD
Sudarso Pontianak.
b. Eksklusi
1) Pasien hipertensi yang menderita penyakit berat
lainnya
2) Pasien hipertensi yang minum obat lain selain yang
diberikan dalam ` penelitian ini
3)
Pasien hipertensi yang tidak bersedia mengikuti prosedur pengobatan dalam
penelitian ini.
3.7 CARA PENGUMPULAN DATA
a. Data primer:
Questioner
b. Data sekunder
Rekam
Medik pasien hipertensi di RSUD Sudarso pada tahun 2009 dan 2010.
3.7.1 Alokasi Subyek
Dalam penelitian
ini jumlah sampel sebanyak 168 orang yang dibagi menjadi tiga kelompok sebagai
berikut:
1.
Penderita hipertensi yang mengonsumsi ekstrak secang (Caesalpinea sappan l.) satu gelas per
hari. (56 orang)
2.
Penderita
hipertensi yang mengonsumsi ekstrak secang (Caesalpinea
sappan l.) dua gelas per hari. (56 orang)
3.
Penderita hipertensi yang sama sekali tidak mengonsumsi
ekstrak secang (Caesalpinea sappan l.). (56
orang)
3.7.2
Pengukuran
dan Intervensi
Alat
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Stetoschope, Sphygmomameter air
raksa. Adapun bahan yang digunakan adalah ekstrak kayu secang (Caesalpinea sappan l.).
Dalam
penelitian ini dilakukan intervensi langsung terhadap subyek penelitian. Subyek
penelitian yang menderita hipertensi diberikan minuman ekstrak kayu secang (Caesalpinea sappan l.)
3.7.3 Kriteria Penghentian Penelitian
Penelitian ini akan dihentikan jika kegiatan penelitian ini telah
mendapatkan hasil dari semua sampel yang
diteliti sehingga dapat dilakukan pengolahan data.
3.8 IDENTIFIKASI VARIABEL
a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian
ekstrak kayu secang pada penderita hipertensi.
b. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tekanan darah
penderita hipertensi.
3.9 RENCANA PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Analisis data dilakukan dengan cara statistic inferensial menggunakan
program SPSS versi 17.00 (evaluation) for windows 2007 dengan metode analisis
untuk menilai adanya pengaruh pemberian ekstrak kayu secang terhadap tekanan
darah.
3.10 DEFINISI OPERASIONAL
3.10.1
Penderita hipertensi adalah penderita yang pernah berobat di RSUD Sudarso
Pontianak, dan tercatat dalam buku register, serta bersedia menjadi subjek
dalam penelitian ini.
3.10.2
Hipertensi/tekanan darah tinggi: tekanan darah penderita yang terukur yaitu
tekanan sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg.
3.10.3
Ekstrak kayu secang (Caesalpinia Sappan
L.) : ekstrak kayu secang yang
berumur sedang dan menghasilkan warna merah bila direbus dalam air panas selama
5 menit.
3.11 MASALAH ETIKA
a.
Menjaga kerahasiaan
Dalam
penelitian ini dibutuhkan kerja sama yang baik dari keluarga subjek untuk
mengetahui riwayat penyakit yang bersangkutan. Untuk memperoleh informasi yang
akurat diperlukan kepercayaan dari keluarga pasien kepada peneliti. Oleh karena
itu etika menjaga kerahasiaan sangat diperhatikan dalam penelitian ini untuk
membangun raport yang baik antara peneliti dengan subjek.
b.
Informed Consent
Untuk menjaga etika dalam penelitian maka dalam pengambilan sampel
dilakukan informed consent untuk memberikan informasi kepada pihak terkait
mengenai penelitian yang akan dilakukan meliputi tujuan, manfaat dalam
penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Price, Sylvia A., dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Seto, Sagung. 2002. Dasar-Dasar
Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: KDT.
Chandra, Budiman..1995. Pengantar Statistik Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran
EGC.
http://www.sehatkita.com
http/www.medis
–medicalinformationsource.com
Files of
DrsMed – FK UNRI (http://yayanakhyar.wordpress.com)









Tidak ada komentar:
Posting Komentar