Tulisan ini pernah saya susun ketika akan mengikuti sebuah ajang bergengsi di Universitas tempat saya kuliah. sayangnya saya tidak lolos ke tahap akhir, hanya sampai setengah jalan. Untuk mengingat dan mengenang kegagalan saya karna kebingungan yang melanda diri saat itu untuk tetap mengikuti kompetisi ini dengan serius atau hanya sekedarnya saja (red: ISENG), maka izinkan saya untuk menjadikannya sebuah postingan di blog ini. Cekidot!
Potensi Limbah Selulosa dari Jerami Padi sebagai Bahan Baku Bioetanol
Oleh: Nopitasari
Potensi Limbah Selulosa dari Jerami Padi sebagai Bahan Baku Bioetanol
Oleh: Nopitasari
Kebutuhan energi semakin lama
semakin meningkat. Dewasa ini, 98% kebutuhan energi di dunia untuk
transportasi dipenuhi dengan bahan bakar minyak (BBM). BBM untuk
transportasi persediaannya terbatas, tidak dapat diperbaharui, dan menyebabkan
kerusakan lingkungan. Karena pemakaian energi
(terutama minyak bumi) dari tahun ke tahun semakin meningkat, sedangkan sumber
bahan bakar yang digunakan semakin menipis, maka untuk mengatasinya
perlu dicari energi alternatif sebagai pengganti BBM.
Salah satu energi alternatif
pengganti BBM adalah bioetanol. Bioetanol adalah
suatu bahan bakar alternatif yang diolah dari tumbuhan (biomassa) dengan cara
fermentasi yang memiliki keunggulan mampu menurunkan emisi CO2
hingga 18%. Di Indonesia, bioetanol sangat potensial untuk diolah dan
dikembangkan karena bahan bakunya merupakan jenis tanaman yang banyak tumbuh di
negara ini dan sangat dikenal masyarakat. Menurut Dr. Ir. Arif Yudiarto,
periset di Balai Besar Teknologi Pati, ada tiga kelompok tanaman sumber
bioetanol, antara lain: tanaman yang mengandung pati seperti singkong, kelapa
sawit, tengkawang, kelapa, kapuk, jarak pagar, rambutan, sirsak, malapari, dan
nyamplung; tanaman bergula seperti tetes
tebu atau molase, nira aren, nira tebu nira surgum manis; dan serat selulosa
seperti batang sorgum, batang pisang, jerami, kayu, dan bagas.
Negara Indonesia merupakan negara agraris dengan lahan pertanian yang sangat
luas serta hasil pertanian yang melimpah. Luas areal pertanian padi di
Indonesia sebesar 12,8 juta ha. Merujuk data FAO 2011, rata-rata produksi padi
nasional mencapai 5 ton per ha. Angka ini lebih tinggi dari Filipina dan
Malaysia yang masing-masing sebesar 3,73 ton dan 3,59 ton. Angka yang terbilang
tinggi ini dapat dijadikan modal bagi kita untuk memanfaatkan limbah pertanian
padi (khususnya jerami) sebagai sumber bahan baku pembuatan bioetanol.
Setelah musim panen, pada umumnya jerami dibiarkan begitu
saja di sawah. Padi yang ditanam diambil bijinya untuk selanjutnya
dijadikan beras, lalu sisa hasil panen berupa jerami, tangkai, serta daunnya
hanya dibiarkan membusuk di tanah atau ada juga yang langsung dibakar. Padahal jerami padi banyak mengandung pati, selulosa dan
glukosa yang cukup tinggi. Dari
luasnya lahan dan banyaknya jumlah hasil panen padi setiap tahun, dapat
dipastikan limbah yang dihasilkannya juga melimpah. Alangkah baiknya jika
limbah tersebut tidak hanya menjadi sampah yang membusuk di permukaan tanah,
namun diolah menjadi produk yang bermanfaat seperti bioetanol.
Jerami padi kaya selulosa dan
hemiselulosa masing-masing 39% dan 27,5%. Hemiselulosa
merupakan heteropolimer polisakarida yang keberadaannya terbanyak kedua setelah
selulosa. Lignoselulosa sebagian besar terdiri dari campuran
polimer karbohidrat (selulosa dan hemiselulosa), lignin, ekstraktif, dan abu.
Kadang-kadang disebutkan holoselulosa, istilah ini digunakan untuk menyebutkan
total karbohidrat yang dikandung di dalam biomassa dan meliputi selulosa dan
hemiselulosa. Karena kandungan inilah maka jerami padi dapat dikonversikan
menjadi bioetanol.
Proses
pembuatan bioetanol sendiri meliputi tahap-tahap berikut : panen, pretreatment, hidrolisis, fermentasi,
distilasi, dan dehidrasi. Jerami padi yang baru saja dipanen dikumpulkan di
suatu tempat. Jerami padi dikeringkan menggunakan oven pada suhu 105oC
sampai kadar air 0% dan dilakukan pengecilan ukuran dengan cara memotong batang padi kecil-kecil, 0.5-1 cm,atau
bisa dicacah dengan mesin cacah agar ukurannya menjadi 40 mesh. Jerami yang
ukurannya sudah diperkecil siap untuk dilakukan pretreatment. Banyak cara untuk melakukan pretreatment, misalnya dengan cara ditekan dan dipanaskan secara
cepat dengan uap panas (Steam Exploaded).
Bisa juga dengan cara direndam dengan kapur selama waktu tertentu. Ada juga
yang merendamnya dengan bahan-bahan kimia yang bisa membuka perlindungan
lignin. Setelah pelindung lignin ini menjadi lunak, maka jerami siap untuk
dihidrolisis. Kemudian
bahan dihidrolisis dengan mencampurkan asam sulfat berkonsentrasi 1-5% dengan
suhu mencapai 180oC. Hidrolisis dilakukan
dalam dua tahap. Pada tahap pertama sebagian besar hemiselulosa dan sedikit
selulosa akan terpecah-pecah menjadi gula penyusunnya. Hidrolisis tahap kedua
bertujuan untuk memecah sisa selulosa yang belum terhidrolisis. Setelah itu prosesnya mirip
fermentasi bioetanol pada umumnya. Mikroba yang digunakan adalah ragi roti (Sacharomycetes cereviceae).
Setelah hidrolisat difermentasi
selama 16-24 jam, tahap berikutnya purifikasi etanol. Proses purifikasi etanol
ini sama dengan purifikasi etanol dari singkong. Prosesnya meliputi destilasi
dan dehidrasi. Biokonversi ini menggunakan tekhnologi
mesin destilator sederhana. Mesin destilator ini dapat dirancang dengan biaya
yang rendah dengan kapasitas produksi yang optimum. Proses destilasi meningkatkan
kandungan etanol hingga 95%. Sisa air dihilangkan dengan proses dehidrasi
hingga kandungan etanol mencapai 99.5%. Etanol siap dimasukkan ke tangki
kendaraan bermotor. Rendemennya mencapai 7,65%.
Potensi produksi jerami
padi per ha kurang lebih 10 – 15 ton, jerami basah dengan kadar air kurang
lebih 60%. Jika seluruh jerami per hektar ini diolah menjadi etanol (ethanol fuel grade), maka potensi produksinya kurang lebih sebesar
766 hingga 1.148 liter/ha. Dengan asumsi
harga ethanol fuel grade pada saat ini
adalah Rp. 5.500,00, maka nilai
ekonominya kurang lebih Rp. 4.210.765 hingga 6.316.148/ha. Berarti sangat
menguntungkan jika kita benar-benar serius mengolah limbah jerami padi menjadi bioetanol. Karena
dengan demikian, penghasilan para petani juga dapat ditingkatkan.
Keuntungan lain yang dapat diperoleh
adalah bahwa Indonesia kaya dengan matahari dan air, sehingga tanaman selulosa
mudah tumbuh. Jika didukung penelitian memadai, produksi bioetanol selulosik
efektif untuk dikembangkan. Menurut Meine van Noordwijk, direktur regional
International Centre for Research in Agroforestry, Bogor, limbah biomassa paling
potensial karena tidak bersaing dengan pangan. Produksi bioetanol dari limbah
tak butuh penanaman khusus sehingga tidak perlu perluasan lahan dan penggunaan
pupuk kimia. Selain itu, penggunaan limbah juga membantu mengatasi permasalahan
lingkungan seperti polusi air, udara, dan tanah.
*dikutip dari berbagai sumber
hahaha,,, ternyata saya pernah menulis sebuah karya yang awalnya saya tidak tau itu apa. Maklum ya jika tulisan ini hanya seadanya, karna ini hasil dari pikiran yang dibilang TAK TENTU RUDU. Dan saya juga baru baca2 tentang ini pas akan menuliskannya. Benar2 tidak menguasai materi. Terima Kasih yang udah mau baca. Semoga bermanfaat.
*dikutip dari berbagai sumber
hahaha,,, ternyata saya pernah menulis sebuah karya yang awalnya saya tidak tau itu apa. Maklum ya jika tulisan ini hanya seadanya, karna ini hasil dari pikiran yang dibilang TAK TENTU RUDU. Dan saya juga baru baca2 tentang ini pas akan menuliskannya. Benar2 tidak menguasai materi. Terima Kasih yang udah mau baca. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar